Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pangeran yang Tak Pernah Sendirian

Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk lewat celah jendela kayu berukir indah, menimpa lantai marmer dingin di Puri Agung. Di sini, setiap sudut berbicara tentang kemuliaan—patung-patung dewa yang berdiri teguh, kain tenun berwarna emas yang tergantung di dinding, hingga aroma dupa yang bercampur wangi bunga kamboja, menguar perlahan seolah menjadi napas tetap tempat ini. Namun bagi Pratama, putra mahkota yang diharapkan menjadi penerus tahta dan penjaga segala adat, kemewahan itu hanyalah sangkar indah yang tak pernah beranjak.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin tembaga tua. Wajahnya tampan, matanya tajam dan tenang, namun ada bayangan lelah yang tersembunyi di balik tatapan itu. Sejak kecil, ia diajarkan satu hal saja: ia bukan milik dirinya sendiri. Setiap langkahnya harus sejalan dengan kehendak leluhur, setiap kata yang terucap harus selaras dengan aturan adat, setiap keputusan yang diambil harus demi kestabilan kerajaan, bukan keinginan hatinya.

“Yang Mulia, waktunya bersiap untuk upacara penyambutan pejabat kerajaan,” suara pelayan terdengar rendah dan hormat dari balik pintu, memutus lamunannya.

Pratama menghela napas panjang, lalu bangkit perlahan. “Masuklah.”

Dua orang pelayan masuk membawa pakaian kebesaran berwarna keemasan dan merah tua, disulam benang emas hingga beratnya terasa menekan bahu. Saat mereka mendandaninya dengan teliti, satu per satu aturan kembali berputar di kepalanya seperti lagu yang tak pernah berhenti. Ia harus berjalan tegak, pandangan lurus ke depan, senyum tipis namun tak terlalu lebar, berbicara dengan nada rendah dan terukur, tak boleh menoleh ke sembarang arah, tak boleh berhenti sejenak tanpa alasan yang jelas.

“Segala sesuatu di sini sudah diaturkan, Yang Mulia,” ujar salah satu pelayan pelan, seolah membaca pikiran sang pangeran. “Kau adalah harapan kita semua. Kehidupanmu sudah terjalin erat dengan tanah ini, dengan tradisi ini. Kau tak akan pernah sendirian.”

Kata-kata itu seharusnya menenangkan, tapi justru terasa seperti rantai yang semakin kencang mengikat dada. Tak akan pernah sendirian—begitulah mereka selalu bilang. Namun kenyataannya, ia merasa lebih kesepian daripada siapa pun. Di sekelilingnya selalu ada orang, selalu ada mata yang mengawasi, selalu ada telinga yang mendengar, selalu ada aturan yang membatasi. Tak ada ruang untuk berbicara apa yang ia rasakan, tak ada tempat untuk melangkah ke arah yang ia inginkan, tak ada kesempatan untuk mengenal siapa dirinya sebenarnya di balik gelar dan kewajiban.

Setelah siap, ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju aula utama. Langkahnya berirama, tepat dan teratur, persis seperti yang dilatihkan sejak ia masih kecil. Di sepanjang jalan, lukisan-lukisan sejarah kerajaan tampak berjejer, menceritakan kisah para leluhur yang setia menjaga warisan, yang menempatkan tahta dan tradisi di atas segalanya. Ia sering bertanya dalam hati: apakah di antara mereka pun ada yang pernah ingin melepaskan segalanya? Apakah ada yang pernah merasa beban ini terlalu berat untuk dipikul seorang diri?

Saat tiba di beranda, ia berhenti sejenak dan menatap ke luar halaman luas. Di sana, rakyat biasa berjalan bebas, berbicara dengan riang, tertawa lepas, berjalan beriringan tanpa perlu mengikuti pola tertentu. Hati Pratama bergetar iri. Mereka tak perlu menimbang setiap kata sebelum diucapkan, tak perlu memikirkan dampak setiap gerak-geriknya, tak perlu mengorbankan keinginan hati demi kewajiban yang tak pernah diminta.

“Pratama.”

Suara berat dan berwibawa terdengar dari belakang. Itu suara Raja, ayahnya. Pratama segera berbalik, menundukkan kepala dengan sopan.

“Ayahanda.”

Raja berjalan mendekat, tatapannya tajam namun penuh harapan. “Kau tampil dengan baik. Ingatlah, segala yang kau miliki—kekuasaan, kehormatan, bahkan napas yang kau hirup—semua ini milik kerajaan dan para leluhur. Kau lahir untuk menjaga kesucian adat, menjaga keseimbangan dunia, dan meneruskan garis keturunan yang tak boleh putus. Segala pilihan hidupmu sudah ditentukan jauh sebelum kau lahir. Tak ada jalan lain, tak ada jalan keluar.”

Pratama mengangguk, namun hatinya berteriak pelan. Bukankah setiap manusia berhak memilih? Bukankah aku juga punya hati yang bisa merasakan, punya keinginan yang tumbuh sendiri? Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan, terkubur dalam-dalam oleh rasa hormat dan ketakutan akan dosa besar yang dianggap akan merusak tatanan dunia.

Siang berganti sore, dan setelah seluruh urusan resmi selesai, Pratama akhirnya mendapatkan waktu singkat untuk beristirahat di sudut taman yang agak sepi. Di sana, di balik rimbunnya pohon kamboja, ia berharap bisa sejenak melepaskan topeng yang ia pakai seharian. Namun baru saja ia duduk dan menutup mata, ia mendengar suara halus yang bukan berasal dari manusia, melainkan dari balik bayangan pepohonan.

“Kau pikir kau hanya terkekang oleh aturan dan perkataan manusia, Pangeran?”

Suara itu lembut namun menusuk, menggema di udara seolah datang dari segala arah sekaligus. Pratama tersentak bangkit, matanya menatap tajam ke arah asal suara, namun tak ada siapa-siapa. Hanya angin yang berhembus pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon.

“Selama ini kau kira yang mengawasimu hanyalah pelayan, penasihat, atau ayahmu?” suara itu kembali terdengar, kini semakin dekat, seolah berbisik tepat di telinganya. “Ketahuilah… sejak hari kau lahir, ada hal lain yang selalu mengikutimu. Hal yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan tak akan pernah membiarkanmu pergi. Kau kira kau tidak pernah sendirian karena orang-orang di sekelilingmu? Salah… kau tak pernah sendirian karena kami selalu bersamamu—di dalam bayangmu, di dalam darahmu, di setiap detak jantungmu yang kau kira milikmu sendiri.”

Darah Pratama membeku. Tubuhnya kaku, matanya terbuka lebar menatap ke kegelapan di antara dedaunan. Ia selalu merasa ada sesuatu yang salah, ada rasa berat yang tak bisa dijelaskan, ada mata tak kasat mata yang menatapnya terus-menerus. Selama ini ia mengira itu hanyalah beban kewajiban, rasa bersalah, atau ketakutan akan aturan ketat yang mengelilinginya.

Namun sekarang, ia menyadari kebenaran yang jauh lebih mengerikan.

Di antara bayangan yang bergerak pelan, terbentuklah siluet samar—bukan manusia, bukan binatang, melainkan sesuatu yang tampak seperti kabut pekat yang berbentuk, dengan sepasang mata berkilauan merah tua yang menatap lurus tepat ke dalam jiwanya.

“Kau ingin tahu apa yang akan terjadi jika kau sampai berani melangkah keluar dari jalur yang telah kami tetapkan?” bisik suara itu lagi, dingin dan penuh ancaman.

Pratama mundur selangkah, napasnya tercekat. Dan saat siluet itu perlahan merentangkan bentuknya, ia melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat—di tangan makhluk itu, tergantung sepotong kain tenun berwarna sama persis dengan pakaian yang ia kenakan hari ini. Dan di atas kain itu, tertulis nama lengkapnya… namun ditulis dengan cairan yang berwarna merah pekat dan masih tampak basah.

“Kau kira kau bebas memilih, Pangeran? Mulai saat ini… setiap langkah yang kau ambil, setiap kata yang kau ucapkan, setiap rasa yang tumbuh di hatimu… semuanya sudah kami catat. Dan jika kau berani memilih jalan yang kami tidak inginkan… kami tidak hanya akan mengambil kembali apa yang kami berikan padamu. Kami akan mengambil juga segala sesuatu yang kau cintai—bahkan sebelum kau sempat menemukannya.”

Siluet itu perlahan menghilang kembali ke dalam bayangan, namun tatapan mata merah itu masih terasa menancap tajam di ingatannya. Pratama berdiri diam di sana, keringat dingin mengalir deras di punggungnya, menyadari satu kenyataan mengerikan yang baru saja terungkap:

Selama ini ia berpikir bahwa ia hidup dalam sangkar yang dibangun manusia. Namun kenyataannya, sangkar itu jauh lebih tua, jauh lebih kokoh, dan penghuninya bukanlah manusia… dan pintu keluarnya sama sekali tidak ada.

Dan di ujung lorong taman yang gelap, ia melihat bayangan itu masih berdiri diam, menunggu… seolah sudah tahu persis apa pilihan yang akan ia ambil nanti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel