Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Di Bawah Langit yang Sama

Matahari baru saja tenggelam di balik punggung bukit, melukis langit dengan warna jingga dan ungu lembut, sementara kabut tipis mulai turun menyelimuti halaman belakang puri—tempat tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang, jauh dari mata pengawal, pendeta, atau siapa pun yang mungkin melaporkan setiap gerak-gerik mereka. Di bawah pohon beringin tua yang dahannya menjulang tinggi bagai payung besar, Pratama dan Larasati duduk berdampingan, jarak tubuh mereka hanya sejengkal, namun hati terasa seolah sudah menyatu erat. Ini adalah pertemuan diam-diam pertama mereka, pertemuan yang tahu-tahu saja menjadi satu-satunya momen di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bukan pangeran dan bukan penari tamu, melainkan hanya dua manusia biasa yang haus akan kebebasan.

“Di sini, setiap batu, setiap pohon, setiap hembusan angin seolah berbicara tentang aturan,” ujar Pratama pelan, matanya menatap jauh ke arah lembah yang mulai gelap. “Sejak kecil aku diajarkan: apa yang kulihat adalah kewajiban, apa yang kurasakan adalah dosa, apa yang kuinginkan adalah hal yang harus dikubur dalam-dalam. Aku diajarkan cara berbicara dengan leluhur, cara memuja sesuai tata cara, cara menjaga kesucian tempat ini. Tapi tak ada yang pernah mengajarkanku… bagaimana cara berbicara dengan Tuhan dengan caraku sendiri.”

Larasati menoleh perlahan, tatapannya lembut namun tegas. “Aku tumbuh di tempat yang jauh berbeda. Di seberang laut sana, kami percaya bahwa Tuhan itu tak terkurung dalam dinding, tak terikat pada satu bentuk gerakan atau satu rangkaian kata saja. Dia ada di mana-mana—di setiap hembusan napas, di setiap tetes air hujan, di setiap detak jantung yang berdebar karena cinta. Aku datang ke sini untuk belajar keindahan budayamu, menghormati cara kalian berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Tapi aku juga tahu satu hal pasti: jalan menuju-Nya banyak sekali, seperti banyaknya bintang di langit malam. Kita berjalan di jalur yang berbeda, tapi kita menatap langit yang sama, bukan?”

Kata-kata itu menusuk tepat ke tengah hati Pratama. Ia menatap wajah gadis itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti—bukan mengerti gelarnya, bukan mengerti kewajibannya, tapi mengerti rasa rindu yang mendalam akan sesuatu yang lebih besar, lebih bebas, lebih hakiki dari segala aturan yang mengikatnya.

“Kebebasan…” gumamnya pelan, seolah merasakan rasa kata itu di lidahnya sendiri. “Aku sering membayangkannya. Berjalan tanpa diikuti pandangan, berbicara tanpa ditimbang maknanya, memilih tanpa takut dikutuk. Tapi di sini, kebebasan dianggap ancaman. Dianggap pemberontakan. Dianggap dosa yang akan merusak keseimbangan seluruh dunia. Mereka bilang aku milik tahta, milik tradisi, milik leluhur. Sehingga aku lupa… aku juga milik diriku sendiri.”

Larasati mengangguk perlahan, tangannya bergerak mendekat hingga ujung jari mereka hampir bersentuhan. “Rumah bukan sekadar bangunan tempat kau lahir, bukan sekadar tanah tempat jenazah leluhurmu dikubur. Rumah adalah tempat di mana jiwamu merasa tenang, tempat di mana kau bisa menjadi apa adanya, tempat di mana kau tak perlu berpura-pura. Selama kau harus menyembunyikan apa yang kau yakini, apa yang kau cintai… di mana pun kau berada, kau tetaplah orang asing.”

Kata-kata itu menggetarkan seluruh jiwa Pratama. Ia sadar sepenuhnya saat itu juga: ikatan yang terjalin di antara mereka bukan sekadar rasa suka atau kagum sesaat. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih kuat—seolah jiwa mereka sudah saling mencari sejak lama, melewati waktu dan jarak yang jauh. Ia tahu betul bahaya yang mengancam. Ia tahu perbedaan asal-usul dan keyakinan mereka adalah dosa besar di mata keluarga dan adat. Ia tahu setiap detik yang mereka habiskan bersama adalah taruhan nyawa. Namun semakin ia sadar betul betapa berat rantai yang mengikatnya, semakin ia tak sanggup melepaskan tangan gadis itu.

“Kita terikat, bukan?” bisik Pratama, matanya berkaca-kaca. “Terikat oleh aturan, terikat oleh takdir yang ditetapkan orang lain, terikat oleh kekuatan yang lebih tua dan lebih kuat dari kita berdua. Semakin kita mendekat, semakin kuat pula tekanan itu terasa… seolah ada benang tak kasat mata yang semakin kencang melilit tubuh dan jiwa kita.”

Larasati menatapnya mantap, senyum tipis namun berani terukir di bibirnya. “Ya, kita terikat. Tapi bukan berarti kita harus berhenti melangkah. Bukankah ikatan itu juga pilihan? Kalau aku harus terikat, aku ingin terikat pada apa yang benar-benar berarti. Kalau aku harus berjuang, aku ingin berjuang untuk sesuatu yang membuat hidupku berharga. Aku tidak akan mundur, Pratama. Dan aku tahu… kau pun tidak akan sanggup melepaskan ini.”

Malam makin larut, angin bertiup lebih dingin, membawa bau tanah basah dan aroma bunga malam. Namun sebelum Pratama sempat menjawab, udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah berat dan pekat. Suara desiran daun terdengar bukan karena angin, melainkan seolah ada sesuatu yang besar dan berat sedang bergerak mendekat di antara rimbunan semak belukar. Cahaya remang bulan tiba-tiba meredup, seolah ditutup oleh bayangan gelap yang tak terlihat wujudnya.

Pratama menegang, seluruh indranya menajam. Ia merasakan hawa dingin yang sama persis seperti yang dulu ia rasakan—dingin yang bukan berasal dari alam, melainkan dingin yang menembus hingga ke tulang, dingin yang membawa rasa takut purba.

“Kau pikir berbicara tentang Tuhan dan kebebasan akan membebaskanmu?” suara berat dan serak berbisik dari segala arah sekaligus, bergema di udara tanpa wujud yang jelas. “Kau pikir dengan menemukan pasangan jiwa, kau bisa merobek kain takdir yang sudah kami tenun sejak ratusan tahun lalu?”

Dari balik batang pohon besar di sebelah kiri, kabut gelap perlahan menggumpal membentuk wujud samar. Sepasang mata merah tua berkilau tajam, menatap lurus tepat ke arah mereka berdua. Di tangan makhluk itu tampak seutas benang panjang berwarna kelabu kusam—salah satu ujungnya melilit erat ke pergelangan tangan Pratama, ujung lainnya lagi melilit erat ke pergelangan tangan Larasati. Dan di tengah benang itu, perlahan muncul tulisan-tulisan samar yang bergerak-gerak: nama mereka, garis keturunan mereka, dan hal yang paling mengerikan—tanda silang berwarna merah darah yang perlahan menyala terang.

“Kalian pikir kalian saling mengikat satu sama lain?” suara itu tertawa rendah, suaranya mengerikan dan menggema. “Kalian salah besar. Kalian berdua hanyalah dua ujung tali yang sudah kami pegang sejak awal. Semakin kalian mendekat, semakin erat kalian terikat… dan semakin mudah pula kami menarik kalian ke arah yang kami inginkan. Dan ketahuilah… tujuan akhir tali ini bukanlah kebebasan, bukan pula kebahagiaan. Tapi satu tempat yang sama… tempat dari mana tak ada satu pun yang pernah kembali hidup-hidup.”

Pratama menoleh cepat ke arah Larasati, wajahnya pucat pasi. Dan saat itu ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku: di leher gadis itu, kalung kecil lambang keyakinannya yang selalu ia pakai, kini mulai berasap tipis dan memanas hebat—seolah terbakar oleh kekuatan yang jauh lebih kuat.

“Larasati! Mundur!” teriaknya, berusaha menarik tangan gadis itu menjauh.

Namun terlambat. Di saat yang sama, bayangan besar itu merentangkan sayap kabutnya lebar-lebar, dan sepasang mata merah itu menyala terang sekali, hingga seluruh tempat itu menjadi merah samar.

“Sudah terlambat…” bisik makhluk itu dingin. “Karena kalian berdua baru saja mengucapkan sumpah diam-diam di bawah langit ini… dan sumpah itu sudah kami dengar, kami catat, dan kami ubah menjadi jaminan abadi. Mulai saat ini… cinta kalian bukan lagi milik kalian berdua. Itu sudah menjadi milik kami… dan akan kami gunakan untuk menghancurkan segala sesuatu yang kalian anggap berharga.”

Di kejauhan, pintu gerbang utama Puri Agung berdentang keras tiga kali berturut-turut—tanda bahaya terbesar. Dan di balik kegelapan, terdengar suara langkah kaki banyak orang berdatangan, disertai suara lantang yang memanggil nama Pratama, mendekat semakin cepat, semakin dekat… sementara benang kelabu di pergelangan tangan mereka berdua semakin kencang melilit, hingga terasa nyeri sekali, seolah akan memutus urat nadi mereka sendiri.

Pratama menatap Larasati dengan mata penuh penyesalan namun juga keteguhan yang tak tergoyahkan. Ia sadar: apa yang baru saja mereka bangun bersama, kini sudah diketahui, sudah ditandai, dan sudah dikejar. Dan yang paling mengerikan… ia belum tahu apakah musuh yang mereka hadapi itu hanyalah makhluk gaib, atau ada tangan manusia yang diam-diam memegang ujung benang itu juga.

Dan di antara kabut merah yang semakin tebal, ia melihat sekilas bayangan lain berdiri di belakang makhluk itu—sosok yang sangat ia kenal, sosok yang ia hormati dan cintai seumur hidupnya… namun kini berdiri diam, menatapnya dengan tatapan dingin dan kosong.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel