Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Wanita Murahan ini adalah Istrimu!

"Dengan menjadi istrimu yang akan kau siksa setiap harinya?" ucap Thania lirih, suara seraknya nyaris patah. Matanya menatap Melvin dengan luka yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

Melvin mengangguk mantap. Tegas. Tanpa ragu sedikit pun.

"Ya. Itu benar." katanya, suaranya dingin dan dalam. "Kau adalah istriku. Dan kau akan hidup sesuai keinginanku. Tak ada pengecualian."

Thania menunduk, menggenggam ujung selimut tebal yang bergetar di tangan. Air mata terus mengalir, namun ia tak mengusapnya. Untuk apa? Tangisnya pun tak punya tempat lagi untuk berlabuh.

Tubuhnya masih terasa sakit. Bukan hanya karena sentuhan kasar Melvin beberapa menit yang lalu, tetapi karena kata-kata yang terucap dari mulut pria itu—kata-kata yang lebih tajam dari bilah pisau mana pun.

"Kau adalah boneka mainan," lanjut Melvin, mendekat dan mencengkram dagu Thania dengan kasar, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya.

"Boneka milikku. Bagian dari perjalanan hidupku. Maka dari itu, turuti semua perintahku. Jangan pernah melawan."

“Dan satu lagi.” Melvin menatap datar wajah Thania yang tengah menatapnya nanar.

“Jangan perlihatkan muka kusutmu di hadapan semua orang. Kau harus terlihat bahagia karena telah menikah denganku! Itu adalah hukuman yang harus kau terima!”

Thania menggertakkan giginya pelan, menahan isak yang hampir keluar. Tatapannya tajam, tapi masih berbalut luka.

"Bagaimana mungkin aku bisa memperlihatkan kebahagiaan di hadapan mereka... kalau perlakuanmu saja seperti iblis?"

Sekejap mata Melvin menyala, dan tangannya mendorong wajah Thania menjauh. Sorot tajamnya mengiris udara, membuat ruangan yang dingin menjadi semakin membeku.

"Iblis dalam diriku tercipta karenamu, Thania!" suaranya meninggi. "Karena kebohonganmu. Karena senyum palsumu di hadapan ayahku! Kau membuatku seperti ini!"

Thania menahan napas. Ia melihat Melvin sejenak, dan dalam diamnya, ada luka yang tak bisa disuarakan.

"Aku tidak pernah ingin ini semua terjadi, Melvin..." suaranya hampir tak terdengar, seperti desir angin yang lelah.

Namun Melvin tak menggubris. Ia mundur selangkah, lalu menatapnya dari atas ke bawah.

"Terserah kau. Tapi mulai besok, kita akan terlihat seperti pasangan bahagia. Suka atau tidak. Karena semua orang harus percaya bahwa aku mencintaimu."

Thania rasanya ingin bercerai saja dengan Melvin, meski pagi tadi baru saja menyelesaikan pemberkatan. Namun, tidak mudah baginya. Melvin pasti akan melakukan segala cara liciknya untuk menahannya.

Bukan karena mencintainya. Melainkan untuk menyiksanya dengan hinaan atau caranya menyentuh Thania. Begitu hina, menatap tubuhnya saja seperti sedang menatap seorang wanita panggilan.

"Mulai hari ini," ucap Melvin dengan nada datar namun penuh ancaman, "kau akan menjalani hidup sebagai istriku sesuai aturanku."

Thania membalikkan badan, menatap suaminya yang kini mendekat satu langkah demi satu langkah. Hatinya berdetak cepat, bukan karena cinta—melainkan ketakutan.

"Apa maksudmu dengan aturan?" tanya Thania pelan.

"Kau tidak boleh dekat dengan pria mana pun, tak peduli itu siapa. Bahkan dengan sopir, pelayan, atau tetanggamu sendiri. Jangan pernah terlihat ramah pada pria lain."

Melvin berhenti tepat di hadapan Thania. "Dan satu hal lagi... kau harus selalu terlihat bahagia di depan semua orang, terutama keluargaku. Tapi, bukan berarti kau harus dekat dengan mereka, terutama pada ayahku!”

Thania mengepal tangannya, menahan amarah yang membuncah. "Dan kau? Bagaimana denganmu?” tanyanya kemudian.

Melvin menyeringai miring. Matanya berkilat seperti menyimpan niat buruk.

"Aku?" Ia tertawa pendek. "Tentu saja aku bebas melakukan apa pun yang aku mau. Apa urusanmu bertanya hal konyol seperti itu?”

"Licik sekali kau, Melvin." desis Thania tajam. "Itu tidak adil."

"Itulah nasib yang harus kau jalani," Melvin mendekatkan wajahnya ke telinga Thania. "Karena sudah menggoda ayahku."

"Aku tidak pernah menggoda ayahmu!" teriak Thania, matanya berkaca-kaca.

"Jika memang aku wanita penggoda, sudah sejak empat tahun lalu aku bisa menghancurkan rumah tangga orang tuamu!"

Melvin terdiam sejenak. Namun alih-alih terdiam karena merenung, ia justru tersenyum sinis.

"Oh!" ucapnya dengan suara terangkat. "Jadi, kau memang berniat ingin melakukannya? Sekali murahan tetaplah murahan!"

Ucapan itu menusuk jantung Thania. Ia menggeleng, air matanya jatuh satu per satu.

"Kau tidak tahu apa-apa tentangku..." lirihnya penuh luka.

Melvin menatap tajam, lalu mendekat begitu dekat hingga Thania bisa merasakan napasnya.

"Tentu aku tahu. Aku sudah mengenalmu selama empat tahun dan selalu memantaumu.” Melvin mengingatkan tentang pekerjaan mereka dalam satu ruangan yang sama.

“Kalau kau berani melanggar semua aturan yang telah aku berikan padamu... kau akan mati di tanganku."

**

“Selamat atas pernikahanmu, Thania,” sapa Arion dengan nada hangat, matanya menatap lembut ke arah Thania yang tengah berdiri di depan pintu ruang rapat menunggu Melvin.

Thania menoleh, kedua alisnya terangkat tipis. “Terima kasih, Arion,” jawabnya pelan sambil memeluk file di dadanya lalu menghela napas.

“Kenapa kau tidak datang di acara pernikahanku dua hari yang lalu?” tanya Thania ingin tahu.

Arion menghela napas sejenak, menunduk. “Maafkan aku, Thania. Ayahku tiba-tiba sakit, aku harus menemaninya ke luar kota kemarin malam. Kupikir masih sempat kembali, tapi jadwal penerbangan…” Suaranya tersendat, menahan rasa bersalah di sudut mulut.

Thania mengangguk pelan, sorot matanya penuh pengertian. “Aku mengerti, keluarga memang lebih penting.” Ia tersenyum, berusaha menutupi rasa kecewa kecil yang merayap di dada.

Arion melempar senyum tipis. “Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Ia menepuk lembut pundak Thania sebelum melangkah mundur.

Mereka menoleh bersama ke arah seberang aula. Seorang pria tampak tegap, jas hitamnya tersemat rapi, wajahnya menatap lurus ke depan tanpa sekat emosi.

Melvin—bersama jajaran direksi perusahaan, berjalan mantap menuju ruang rapat yang akan dimulai beberapa menit lagi.

“Hei, sebaiknya kita masuk,” ujar Thania menahan pekikan gemuruh dari tamu lain yang mulai berbaris memenuhi ruang rapat.

Arion melirik sejenak ke arah Melvin, lalu membalas tatapan itu dengan senyum sopan yang nyaris meruntuhkan pilar ketegasan Melvin. “Silakan lebih dulu, Thania. Aku tunggu di dalam.”

Thania terdiam, hatinya berdegup cepat. Ada perasaan lega melihat Arion memberikan jalan, namun seketika terhalang oleh bayangan sosok suaminya.

“Baik,” ucapnya dan melangkah anggun masuk. Melvin menoleh dan sekilas menatapnya, tubuhnya membeku selama sepersekian detik sebelum melanjutkan langkah ke dalam ruangan.

Pintu ruang rapat tertutup di belakang mereka. Suara langkah sepatu hak tinggi dan suara sepatu pantofel bergantian memecah keheningan.

Arion berdiri beberapa langkah di belakang, matanya terus mengikuti Thania, seolah setiap geraknya adalah harta karun yang tak ingin dilepaskannya.

Di dalam, Melvin duduk di kursi paling ujung meja oval, menghadap para direksi. Pandangannya tajam melintas di antara para hadirin, lalu berhenti pada kursi kosong di sisi Thania.  

“Duduk di sampingku,” titah Melvin dengan suara dingin yang menusuk, seolah tak menyisakan ruang bagi bantahan.

Thania melirik sekilas ke arah pria itu. Ada ketegangan di matanya yang sejenak menguar, tapi ia cepat menekannya.

Dengan anggukan kecil, ia mematuhi perintah itu. Bukan karena takut. Bukan pula karena tunduk. Tapi karena itulah satu-satunya cara untuk menjaga Melvin tetap tenang, tetap merasa di atas.

Ia sudah lelah bertengkar dengan amarah yang tak pernah jelas asalnya—amarah yang selalu jatuh padanya, walau bukan ia penyebabnya.

Tak lama kemudian, Arion masuk ke dalam ruangan dengan langkah tenang dan percaya diri. Lengan kanannya memegang folder laporan, dan sorot matanya mengarah lurus ke depan, menyapu ruangan tanpa gentar.

Seketika itu juga, suasana menjadi berbeda. Ada ketegangan samar yang merayap seperti kabut di pagi hari. Semua mata tertuju padanya, namun hanya satu tatapan yang benar-benar membakar: Melvin.

Tatapan pria itu tajam, membara, menyimpan kecurigaan yang telah lama bersemayam dalam hatinya. Ia tahu betul—Arion menyukai Thania.

Itu bukan rahasia. Tapi Melvin, dengan segala kesombongan dan keyakinannya, percaya bahwa tak ada pria lain yang bisa menggantikan posisi Kalen di hati Thania.

Bahwa sekalipun Arion tampan, cerdas, dan punya segalanya, ia tetap tak akan mampu menaklukkan wanita itu.

Rapat pun akhirnya selesai. Namun, ketegangan belum berakhir. Justru baru dimulai. Melvin menggenggam tangan Thania dengan kasar, menariknya tanpa aba-aba, menyeretnya menuju ruang kerjanya.

“Sakit, Melvin. Jangan mencengkeram tanganku seperti itu,” lirih Thania, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.

Ia melepaskan genggaman itu dengan paksa, menatap Melvin dengan luka yang tak lagi bisa disembunyikan.

Melvin membalikkan badan, wajahnya mengeras. “Kau pikir aku tidak melihat apa yang kau lakukan dengan Arion di depan ruang rapat tadi?” suaranya tajam, seperti bilah pisau yang menebas udara di antara mereka.

Thania terdiam sejenak. Ia mencoba mengatur napas, menahan diri dari amarah yang perlahan membuncah. Tapi Melvin tak berhenti.

“Tidak bisakah kau bersikap sebagai wanita elegan di hadapan pria? Tidak bisakah kau membuang derajat murahanmu itu di hadapan pria?”

Dan saat itulah, sesuatu di dalam diri Thania pecah. Ia menunduk, meremas tangannya sendiri, mencoba meredam getar di dadanya. Tapi kata-kata Melvin terlalu tajam, terlalu menyakitkan.

“Dia hanya mengucapkan selamat padaku. Apa bagimu semua pria yang dekat denganku karena aku murahan? Dangkal sekali otakmu, Melvin!” ucap Thania, suaranya bergetar antara marah dan luka yang telah lama ditahan.

“Karena memang kenyataannya seperti itu, Thania. Kau pikir aku tidak tahu kalau Arion menyukaimu? Tapi, kau tidak mau mendekatinya karena dia hanya seorang General Manager di sini!”

Thania menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Matanya tak sekadar menatap, tapi menelanjangi luka lama yang semakin menganga. Napasnya berat.

“Wanita murahan yang kau sebut-sebut itu istrimu sendiri, Melvin.” Suaranya lirih, tapi tajam.

“Jika kau menghinaku dengan kata-kata itu terus-menerus, apa bedanya denganmu yang sama murahannya denganku, karena menikahi wanita murahan?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel