Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Melvin Memiliki Kekasih?

“Jangan beritahu siapa pun, Regina. Aku mohon,” pinta Thania dengan suara gemetar, matanya memburu ketakutan, seolah setiap kata yang keluar bisa menjadi peluru yang membunuhnya di kemudian hari.

Tangannya menggenggam erat tangan Regina, mencari pegangan di tengah badai yang terus menghantam hidupnya.

Ia baru saja menceritakan semuanya—penderitaan dalam pernikahan yang tak pernah ia impikan, kebohongan Melvin yang membuatnya terjebak, dan cinta palsu yang berubah menjadi penjara tanpa pintu keluar.

Regina terpaku. Matanya berkaca-kaca menatap Thania yang kini jauh dari sosok ceria dan profesional yang ia kenal selama ini.

Di hadapannya kini duduk seorang wanita yang hancur, dengan mata sembab dan tubuh lelah seperti telah memikul beban dunia.

“Aku tidak menyangka jika sikap Melvin akan semakin menjadi,” ucap Regina perlahan, suaranya nyaris berbisik karena takut menyakiti Thania lebih dari yang sudah ia alami.

“Aku tahu, dia memang sedikit arogan dan seringkali berdebat dengan ayahnya. Tapi... mendengar bahwa dia juga menipumu, aku benar-benar terkejut, Thania.”

Thania hanya tersenyum lirih. Senyum yang tidak mengandung kebahagiaan—hanya sisa-sisa kekuatan untuk tetap terlihat hidup.

“Ini semua salahku, Regina. Aku terlalu bodoh... terlalu polos...” suaranya patah-patah, seperti tiap katanya menyayat tenggorokannya.

“Aku kehilangan akal. Hanya karena dijanjikan utang lunas saja... aku langsung luluh. Aku pikir... aku pikir dia sungguh mencintaiku. Ternyata, ini balasan yang harus aku dapatkan...”

Air mata kembali mengalir di pipinya, tanpa isak, hanya diam dan jatuh satu per satu seperti gerimis yang menghantam tanah kering. Hening, tapi menghancurkan.

Regina mengusap lembut lengan Thania, mencoba menyalurkan kekuatan melalui sentuhan yang hangat.

Tanpa berkata apa pun, ia menarik tubuh Thania ke dalam pelukannya—erat, dalam, dan tulus.

Ia tahu, pelukan itu mungkin tak akan menyelesaikan apa-apa, tapi paling tidak... bisa membuat Thania merasa tidak sendirian untuk sesaat.

“Jangan sungkan untuk menceritakan semuanya padaku, Thania. Jangan pendam sendiri. Aku ada untukmu,” bisik Regina penuh ketulusan, sambil mengusap punggung sahabatnya perlahan.

Thania mengangguk pelan di pelukan itu. “Terima kasih, Regina... Kau gadis yang baik. Aku senang memiliki sahabat dan partner kerja sepertimu. Mungkin, satu-satunya alasan aku bisa bertahan sejauh ini adalah karena kau masih ada.”

Regina menarik tubuh Thania agar bisa melihat wajahnya. Ia tersenyum hangat, meski matanya ikut berkabut oleh air mata yang ia tahan.

“Kalau kau lelah dan ingin menyerah... sebaiknya menyerah saja, Thania. Hidup ini terlalu singkat untuk terus disiksa. Kau berhak bahagia, bahkan lebih dari siapa pun.”

Thania menunduk. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan, seolah jika ia tidak memeluk dirinya sendiri, tubuhnya akan runtuh saat itu juga.

“Sulit, Regina... Dia memegang rahasia keluargaku. Aku akan terjebak selamanya dalam hidup Melvin. Akan selamanya menjadi boneka mainan Melvin.”

Kata-kata itu keluar seperti sumpah kutukan. Matanya menatap kosong ke arah lantai, seolah masa depannya terhampar di sana—gelap, sunyi, dan tanpa harapan.

Regina terdiam. Ia ingin bicara, ingin mengusulkan sesuatu, ingin mengatakan bahwa ada jalan keluar. Tapi kenyataan yang Thania katakan itu benar—Melvin bukan pria biasa.

Ia punya kuasa. Punya kendali. Dan jika Regina bertindak gegabah, bukan hanya Thania yang akan hancur... dirinya pun bisa ikut binasa.

“Maaf, aku tidak bisa membantumu, Thania. Aku pun takut… aku juga hanya wanita lemah, sama sepertimu,” ucap Regina lirih, suaranya nyaris tak terdengar di antara degup kecemasan yang memenuhi ruang kecil itu.

Thania tidak berkata apa-apa selama beberapa saat. Matanya kosong menatap lantai, seolah sedang menenangkan badai di dalam dadanya yang tak pernah reda.

Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis—senyum yang tak membawa cahaya, hanya luka yang tersamar rapi.

“It’s okay, Regina. Tidak perlu membantu apa pun. Aku akan bertahan… semampuku, sebisaku,” jawab Thania dengan suara yang terdengar tenang, tapi sebenarnya penuh ketakutan yang ditelan diam-diam.

Regina memeluknya lagi. Erat. Ia tahu pelukannya tak bisa menyelamatkan Thania dari kenyataan yang menyesakkan, tapi setidaknya… bisa membuatnya merasa sedikit lebih hangat, meski hanya untuk sejenak.

Di dalam pelukannya, Regina menahan tangis. Betapa berat beban yang harus Thania jalani.

Ia bukan hanya wanita biasa yang terjebak dalam pernikahan yang dingin dan penuh kebencian, tapi juga seorang kakak, seorang tulang punggung keluarga, seorang wanita yang memikul utang demi membebaskan kakaknya yang bahkan tak tahu balas budi.

Dan kini, nasib menggiringnya untuk menjadi istri dari pria seperti Melvin—arogan, manipulatif, licik, dan berhati dingin.

Sekadar membayangkannya saja sudah cukup membuat bulu kuduk Regina merinding. Tapi Thania? Ia menjalaninya… setiap hari, setiap malam. Sendiri.

**

Waktu bergulir. Jam telah menunjukkan pukul lima sore ketika mobil mereka berhenti di depan rumah.

Melvin membuka pintu dengan langkah santai, tapi sorot matanya tetap dingin dan tak bersahabat.

“Siapkan air hangat untukku,” titahnya singkat, tanpa menoleh, sambil membuka satu per satu kancing kemejanya, seolah Thania adalah pelayan pribadinya, bukan istri sahnya.

Thania tidak menjawab. Tak ada tenaga lagi untuk membantah. Tak ada suara yang tersisa untuk menyanggah.

Ia hanya memutar tubuh dan melangkah menuju kamar mandi, menjalankan perintah seperti mesin yang kehilangan jiwa.

Di dalam kamar mandi, ia mengisi bath tub dengan air hangat, memastikan suhunya pas, seperti yang Melvin suka.

Ia bahkan menambahkan minyak aroma terapi, meski tak pernah diminta. Bukan karena dia peduli—tapi karena satu kesalahan kecil bisa memicu amarah yang tak terkendali.

Lima belas menit berlalu. Saat air sudah siap, Thania keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan.

“Air hangatnya sudah siap,” ucapnya datar, seperti kaset yang diputar ulang tanpa emosi.

Melvin meliriknya sekilas, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia bangkit dan masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan terima kasih. Tentu saja. Ia tak pernah melakukannya.

Thania duduk di tepi tempat tidur, memejamkan mata sejenak. Satu tarikan napas… dua tarikan napas… mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak pernah benar-benar tenang di rumah ini.

Lalu—ding—suara notifikasi dari ponsel Melvin menyentaknya.

Tanpa sadar, matanya melirik ke arah layar ponsel yang menyala. Ia bukan tipe pencemburu.

Bahkan tidak merasa punya hak untuk cemburu. Tapi kali ini... dadanya terasa seperti diremas ketika membaca pesan yang muncul di layar:

‘Sampai jumpa nanti, Melvin. Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu.’

Thania menegang. Tangannya bergetar, alisnya mengerut. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Siapa dia? Jadi… selama ini dia memiliki kekasih?” gumamnya lirih.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel