Bab 4
Halaman depan kediaman Hou, di lapangan tempat latihan bela diri.
Ketika Zhao Zhen datang, ia mendapati bukan hanya ayahnya seorang yang ada di sana, melainkan juga adik tirinya, Zhao Mian.
Keduanya sedang berlatih tanding, dan pukulan mereka benar -benar keras dan langsung mengenai badan.
Melihat Zhao Mian, sorot mata Zhao Zhen sempat berkilat, tapi dengan cepat ia sembunyikan emosinya. “Ayah!”
Hou Zhenbei menghentikan gerakannya. Melihat putra sulungnya datang, ia mengangguk. “Kamu datang tepat waktu. Aku ada hal yang ingin disampaikan padamu.”
“Baik, Ayah.”
Zhao Zhen pun mendekat ke sisi Hou Zhenbei dan masuk bersamanya ke ruang dalam.
Zhao Mian memandangi mereka pergi, tangan yang menggenggam kepalan sempat mengendur, lalu mengepal lagi.
Kong Wu menatap tuannya dengan cemas. “Tuan Muda Kedua?”
Zhao Mian menjawab datar, “Ayo pergi.”
Setelah itu, ia melangkah pergi lebih dulu.
Di dalam ruang studi.
Hou Zhenbei menyeka wajahnya dengan sapu tangan. “Kudengar kamu sudah ‘berhubungan’ dengan si Qin itu.”
Zhao Zhen merasa canggung. “Benar.”
Fakta bahwa ia dipaksa untuk ‘melakukan hubungan suami istri’ itu kembali dibahas, membuat suasana hatinya memburuk.
“Karena ini adalah pernikahan antar keluarga, Li Guozhu tentu tak akan mudah dibohongi begitu saja. Ia pasti ingin memastikan sendiri apakah keponakannya benar -benar sudah menjadi wanita keluarga Zhao.”
Zhao Zhen menunduk. “Li Guozhu itu orang kasar. Aku tak menyangka ia tidak peduli sama sekali pada harga diri si Qin.”
Hou Zhenbei mendengus, “Orang yang bisa memimpin pasukan, tangan mereka sudah ternoda darah. Mana ada yang berhati lembut. Jangan bilang keponakannya—anak kandungnya sendiri pun akan ia perlakukan sama.”
“Ayah, masa aku harus terus memanjakan si Qin itu ke depannya?”
Zhao Zhen tidak senang memikirkan hal ini. Istri yang dipaksakan membuatnya merasa kehilangan muka.
Hou Zhenbei tertawa, “Tentu saja tidak. Dia adalah istri sahmu. Berikan saja penghormatan secara lahiriah. Kalau kamu suka pada selir lain, tinggal ambil saja. Apalagi kalau itu adalah keponakan ibumu. Kalau kamu benar- benar menyukainya, suruh saja ibumu pilihkan hari baik.”
Zhao Zhen tertawa. “Baik, aku akan menuruti Ayah.”
Melihat putra sulungnya senang seperti itu, Hou Zhenbei tak bisa menahan rasa tak berdayanya. Ia memang kurang pengalaman.
“Tapi, si Qin itu jangan sampai diabaikan. Bagaimanapun pamannya itu seorang letnan canjiang (komandan menengah).”
Zhao Zhen teringat janjinya pada Song Zhirou, sehingga ia tidak langsung menyetujui ucapan Hou Zhenbei.
Hou Zhenbei melirik Zhao Zhen. “Kau mengira Li Canjiang itu hanya petani kasar, jadi kau meremehkannya?”
Dalam hati Zhao Zhen memang begitu, tapi ia tidak mengakuinya. “Tidak.”
Melihat putranya yang membuatnya marah karena tak bisa diasah dengan baik, Hou Zhenbei agak kecewa.
Namun mengingat usia Zhao Zhen baru delapan belas tahun, meskipun sudah pernah dibawa ke medan perang, tapi pengalaman memimpin pasukan sendiri masih minim. Ia memang belum cukup teruji.
“Zhao Zhen, jangan remehkan Li Guozhu. Walau dia cuma seorang canjiang, ia sangat disukai oleh Pangeran Qi. Dan sekarang, kementerian militer dikuasai oleh pihak Pangeran Qi. Dengan pernikahan ini, keluarga Hou Zhenbei kita bisa sedikit bernafas lega.”
Zhao Zhen menunduk. “Anak mengerti.”
Hou Zhenbei melihat putranya begitu, tahu bahwa dia masih sedang kesal. “Sudahlah, tidak usah bahas ini. Beberapa hari ke depan, bersiaplah. Kamu akan ditugaskan ke barak militer.”
“Ayah, apakah orang Hu dari utara kembali bergerak?”
Hou Zhenbei yang sudah lama menjaga wilayah utara, tahu bahwa orang- orang Hu sangat suka mengganggu perbatasan Dinasti Shang. Apalagi beberapa tahun terakhir ini kondisi politik Dinasti Shang sedang kacau, para pangeran terus berebut kekuasaan, ditambah daerah Zhongyuan mengalami bencana kekeringan dan banjir silih berganti, rakyat sudah hidup dalam penderitaan.
Apa yang bisa dilakukan oleh Jenderal Penjaga Perbatasan Utara hanyalah menjaga perbatasan utara agar bangsa Hu tidak menyerbu masuk.
Namun meskipun begitu, Kaisar tetap saja mencurigai Keluarga Jenderal Penjaga Perbatasan.
“Hmm, belakangan ini orang -orang Hu makin sering bergerak, kita harus bersiap -siap.”
Zhao Zhen mengangguk, “Ya, Ayah, anak mengerti.”
Jenderal Penjaga Perbatasan teringat pada putra keduanya, lalu berkata, “Adikmu itu juga sudah tak muda lagi, dia juga ingin ikut masuk ke kamp militer. Hari ini aku coba sedikit kemampuannya, ternyata tidak buruk, hahahaha!”
Zhao Zhen sempat tertegun, tapi segera menyadari maksud ayahnya. “Adik kedua dibimbing langsung oleh Ayah, tentu saja hebat.”
Jenderal Penjaga Perbatasan tahu betul isi hati Zhao Zhen, maka ia pun menasihatinya, “Anakku, kamu adalah putra sulung dan cucu utama dari generasi Zhao saat ini. Kamu harus punya kelapangan hati. Adik -adikmu semuanya perlu dukungan darimu. Sebagai kakak tertua, Kamu harus menjadi panutan.”
Zhao Zhen mengangguk, “Ya, Ayah, aku paham.”
Jenderal itu merasa puas, “Baiklah, kali ini kamu akan pergi keluar, ajak adikmu juga ikut bersamamu. Nanti kamu harus banyak membimbingnya.”
“Ya, Ayah!”
Di Paviliun Cuiyu.
Setelah mandi, Qin Wan kembali ke kamar pengantin. Tubuhnya yang terlalu lelah membuatnya tertidur di atas ranjang tanpa sadar.
Namun suara keroncongan perutlah yang membangunkannya.
Ia menoleh ke luar jendela, ternyata langit sudah gelap.
“Cai Huan? Cai Huan?”
Qin Wan masih ingat, sore tadi ada dua pelayan yang mengaku sebagai pelayannya, tapi kenapa sekarang tak satupun datang membangunkannya?
Suara Qin Wan cukup nyaring, tapi tak ada sedikit pun jawaban dari luar.
Qin Wan duduk di depan cermin dan mengikat rambut panjangnya dengan gaya ekor kuda tinggi. Ia memang tak bisa menata rambut ala perempuan zaman kuno, dan tak ada yang membantunya, jadi beginilah adanya.
Ia dulunya mahasiswa jurusan teknik mesin. Laboratorium kampusnya penuh mesin besar, dan saat mengoperasikannya, ia harus ekstra hati -hati demi keselamatan.
Perempuan jurusan teknik sudah langka, apalagi yang berambut panjang.
Qin Wan dulu berambut pendek, praktis dan rapi. Sekarang tiba -tiba rambutnya panjang, membuatnya cukup tidak nyaman.
Ia pun hanya bisa mengikat seadanya.
Beberapa saat kemudian, perutnya kembali berbunyi dua kali, membuat Qin Wan mengeluh, “Sepertinya memang benar- benar lapar. Keluarga Zhao ini sungguh keterlaluan, masa tak ada yang memanggilku makan malam!”
Kalaupun tidak mengundangnya ke aula utama, setidaknya harus mengantar makanan ke dalam halaman tempatnya tinggal.
Qin Wan berdiri dan melangkah keluar kamar. Melewati taman kecil, ia sampai di pintu luar.
Ia mendorong pintu perlahan, tapi pintunya tak terbuka.
Kening Qin Wan berkerut rapat. “Apa ini… dikunci?”
Ia mencoba mendorong lebih keras, tapi tetap tak terbuka. Bahkan terdengar suara logam yang saling bertubrukan dari arah pintu.
Qin Wan yakin—pintu ini memang dikunci dari luar.
“Keluarga Zhao benar- benar keterlaluan!”
Di masa modern, Qin Wan adalah pribadi yang tenang, pendiam, dan tidak mudah marah.
Tapi sekarang, baru hari ketiga pernikahan, dia sudah dikurung, dan tidak diberi makan pula?
Ini sudah keterlaluan!
Kalau mereka memang tidak setuju dengan pernikahan ini, kenapa dulu tidak menolak saja? Kenapa sekarang malah menggunakan cara- cara licik seperti ini?
“Hari ini, aku harus makan bagaimanapun caranya!”
Qin Wan mendekati tembok, memperkirakan tinggi dinding, lalu mundur beberapa langkah. Ia mengambil ancang- ancang dan berlari, berusaha melompati dinding itu.
Namun temboknya agak tinggi, dan dia gagal memanjatnya.
Untungnya, Qin Wan punya satu kelebihan: pantang menyerah.
Ia mencari -cari di sekeliling halaman, dan akhirnya menemukan sebatang bambu di sudut.
Di kampus, Qin Wan juga dikenal sebagai mahasiswa yang pandai olahraga—dan kebetulan cabangnya adalah… lompat galah.
Ia mengukur tinggi dinding, lalu bersiap. Kali ini ia harus berhasil, kalau tidak bisa jadi malah menabrak dinding.
Dengan bambu di tangan, Qin Wan mengambil ancang- ancang, berlari cepat, lalu melompat tinggi. Tubuhnya melayang di udara dan… berhasil melewati dinding!
“Ahhhhhhhh!!!”
