Bohong Demi Daddy
"Kamu mau pulang bareng aku, nggak?" tawar Evie Belinda.
"Angel mau pulang sendiri aja," jawab Angel tanpa menoleh. Tangannya sibuk memasukkan buku ke tas.
"Jadi kamu pulang sama siapa?"
"Ha?!"
Angel menoleh linglung.
"Aku... Aku pulang sendiri..." Suaranya pelan. Bohong.
Evie memicingkan mata. Tatapannya menusuk.
Angel menghela napas. Tatapan Evie membuatnya tidak nyaman.
"Beneran, ih! Angel beneran pulang sendiri." Angel mengerucutkan bibir, berusaha meyakinkan.
Evie berdeham.
"Ya sudah! Kamu balik aja sama aku, daripada pulang sendiri," ucap Evie.
Angel memutar mata. Otaknya berputar mencari alasan.
"Ihhhh! Angel naik busway saja!" pekiknya.
Evie mendelik.
"Nggak usah! Pokoknya pulang bareng aku!" Evie tidak mau kalah.
"Evieeeee! Angel mau naik busway pokoknya," rengek Angel.
Evie memutar bola mata malas.
"Memangnya seseru apa, sih?! Yang ada cuma buang uang," gumam Evie.
"Kamu pulang saja," Angel memerintah sambil terus beres-beres.
"Kamu beneran yakin mau pulang sendiri?"
Angel mengangguk cepat. Matanya mantap menatap Evie.
"Ya sudah kalau begitu. Aku balik," Evie akhirnya menyerah.
Angel berdeham lega sambil tersenyum lebar.
Evie menyandang tas dan keluar kelas.
Angel berhenti beres-beres. Matanya tidak lepas dari punggung Evie yang menjauh.
Senyumnya luntur. Diganti rasa bersalah yang menyesak.
"Maaf, Vie. Angel harus bohong. Angel takut kamu meninggalkan Angel kalau kamu tahu semuanya," batin Angel sambil menunduk. Dadanya sesak.
***
Angel berdiri di gerbang sekolah. Matanya celingak-celinguk.
Lalu bibirnya merekah. Mobil sport putih yang dia kenal sekali parkir tidak jauh dari gerbang.
Angel berlari kecil ke sana. Dia mengetuk kaca mobil.
Klik. Pintu terbuka. Nick sedang merokok.
Angel buru-buru masuk. Nick membuang rokoknya lewat jendela.
Mata Angel langsung berbinar menatap pria di sampingnya.
"Daddyyyyyyyyy!" pekik Angel manja.
Tanpa menunggu, Angel langsung memeluk tubuh Nick Brechtje. Pria 14 tahun lebih tua darinya. Sugar daddy-nya.
Nick membalas pelukannya sekilas. Angel lalu melepas pelukan itu.
"Aku kira kamu sibuk lagi. Hampir saja aku pulang bareng Evie. Kamu tidak kasih kabar mau jemput," Angel mengomel manja.
"Terus kamu tahu dari mana aku mau jemput kamu?" Nick bertanya datar.
"Feeling!" Angel menyeringai bangga.
Nick tersenyum tipis dan langsung tancap gas.
"Daddyyyyyyyyy!"
"Hmm?"
"Angel lapar sekali."
Nick melirik Angel sebentar, lalu fokus menyetir lagi.
"Mau makan apa?"
"Makan Daddy," jawab Angel, nadanya sengaja dibuat manja.
"Nakal?" Bibir Nick miring.
Angel tertawa kecil. Menggeleng-geleng.
"Bercanda, Daddy. Angel mau makan waffle saja!"
"Lagi?"
"Iya! Boleh ya, Daddy!" Angel semangat memeluk lengan Nick.
"Hmm..." Nick hanya berdeham.
Angel langsung tersenyum lebar. Dia mengecup pipi kanan Nick.
"Tapi makannya di apartemenku saja."
"Kenapa tidak makan di luar sekalian?"
"Aku sedang tidak mau ramai, Ngel."
"Ah... Oke..."
Nick mengelus rambut Angel. Tumben sugar baby-nya nurut.
_**
Nick masuk kamar. Angel sudah tiduran di kasur.
"Kenapa langsung ke kamar? Waffle-nya di dapur tidak dimakan," Nick duduk di pinggir kasur.
"Tiba-tiba Angel mengantuk sekali," Angel manyun.
"Bisa begitu?" Nick mengangkat alis.
"Hmm..." Angel memejamkan mata.
"Posisi tidurnya diperbaiki, Ngel."
"Enak kalau begini, Daddy."
"Angel!"
Nada Nick naik satu oktaf. Angel langsung manyun kesal.
Angel membenarkan posisi tidurnya. Nick hanya melipat tangan, memperhatikan dia.
Kapan aku ganti baju ya? Masih seragam begini, Angel menggerutu dalam hati melihat dirinya sendiri.
"Kan! Angel tidak bisa tidur lagi! Tadi enakan posisinya begitu!" protes Angel.
"Ck, ribet sekali," keluh Nick.
"Ish! Beneran, loh," Angel manyun.
Nick mengacak rambutnya.
"Tinggal pejamkan mata. Sudah, kan?!"
"Peluk Angel, dong!"
"Hmm..."
Nick naik ke kasur dan berbaring di sebelah Angel.
Angel langsung tersenyum lebar. Dia bergeser, menindih dada Nick yang bidang.
"Bedanya sama tidur yang tadi apa coba?" tanya Nick datar.
Angel hanya menyeringai. Dia membenamkan wajah di leher Nick dan memejamkan mata lagi.
"Mau pulang jam berapa?" tanya Nick.
Angel menggeleng.
"Mama sama Papa ke luar kota. Aku mau menginap di sini saja sama kamu," bisik Angel.
"Aku mau lembur."
Tiga kata itu membuat Angel langsung membuka mata. Dia mendongak menatap Nick.
"Lembur apa lagi?! Kamu yang punya barnya!" Angel tidak terima. Dia tidak mau ditinggal sendiri.
"Aku ada tamu VIP."
Angel manyun. Jawaban Nick selalu itu.
"Ih! Suruh manajer kamu saja," Angel makin erat memeluk Nick.
"Tidak bisa, Ngel." Nick mencoba melepas pelukan Angel.
"Tidak usah kerja begini dong..."
Nick menghela napas panjang lalu mengecup pipi Angel sekilas. Tapi Angel masih tidak mau kalah.
"Aku tidak kerja, yang bayar kamu siapa?"
"Ish!!!"
Angel langsung duduk di atas perut Nick.
"Kenapa harus bayar?! Bukannya Angel itu pacar kamu?!" Angel manyun.
"Sejak kapan?" Nick mengangkat alis.
"Makanya! Ayo kita pacaran!" rengek Angel.
"Tidak," jawab Nick singkat.
Angel manyun makin parah.
"Daddyyyyyyyyy! Update dong! Dari baby jadi pacar," Angel memaksa manja.
"Upgrade apa?!"
"Ayo pacaran pokoknya, Daddy!"
Dasar batu, umpat Angel dalam hati.
"Sudah. Katanya mau tidur. Tidur sekarang! Aku mau kerja!"
"Mau ikut."
"Tidak! Kamu kalau ikut menyusahkan."
"Mana ada aku menyusahkan kamu," Angel tidak mau kalah.
Nick mengangkat kedua alisnya.
"Angel sekarang mengajak berantem?"
"Mana ada aku mengajak berantem!"
Kesal, Angel langsung berdiri dan berjalan ke balkon.
Nick hanya mengembuskan napas kasar di belakangnya.
Susah juga jadi sugar baby seperti aku. Tapi Nick juga tidak akan menemukan yang semanja aku, batin Angel sambil memeluk dirinya sendiri di balkon. Angin malam membuat matanya perih.
