Pustaka
Bahasa Indonesia

DEKAPAN AYAH MERTUA

21.0K · Baru update
Karl Valerie
16
Bab
215
View
9.0
Rating

Ringkasan

Vania, gadis cantik berusia di awal 20-an ternyata diam-diam memiliki ketertarikan pada pria yang lebih dewasa darinya. Ketika melihat sosok Heru Mahendra, Vania mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada pria itu. Pertemuan mereka dimulai dari Heru yang tidak sengaja menabrak Vania yang tengah kebingungan mencari pekerjaan. Dengan baik hati pria itu menawarkan pekerjaan pada Vania dengan menjadikannya sebagai sekretaris di perusahaannya. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat. Lambat laun, cinta mulai tumbuh di hati keduanya. Dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan diam-diam karena status Heru yang telah memiliki seorang istri. Walaupun begitu, Vania tidak menyerah dengan cintanya dan semakin ingin menjerat pria itu. Sampai kemudian, Heru memilih pensiun dini dari jabatannya dan perusahaannya diambil alih oleh putranya, Januar. Dari keputusan itu ternyata membuat Januar dan Vania menjadi dekat. Hingga keduanya memutuskan untuk menikah secara kontrak karena desakan orang tua Januar. Vania akhirnya setuju dengan perjanjian itu. Dia menjalani pernikahan dengan Januar semata karena ingin selalu berada di dekat papa mertuanya, Heru Mahendra yang notabane nya ada kekasihnya. Apakah usaha Vania akan berhasil? Atau justru dia harus menerima kenyataan jika Heru dan dirinya tidak bisa bersama?

RomansaMenantuPerselingkuhanKawin KontrakPerceraianOne-night StandPengkhianatanCinta Pada Pandangan PertamaKeluargaDewasa

DAM | Prolog

Brak

Seorang gadis terpental cukup kuat menghantam aspal setelah sebuah mobil tiba-tiba saja menabrak tubuhnya. Gadis itu meringis merasakan nyeri pada punggung dan sikunya.

"Awshh.. " gadis itu mencoba duduk, dan memegang sikunya yang terluka.

Tap tap tap

Suara langkah kaki yang terdengar buru-buru menghampiri gadis itu. Seorang pria paruh baya berpakaian jas mahal tampak berdiri di depannya. Lantas setengah berjongkok dengan raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran sekaligus penyesalan.

"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara berat.

Gadis bernama Vania Larasati itu seketika mendongak. Netra jernihnya bertemu pandang dengan netra jelaga milik pria itu.

Sebelum Vania bereaksi, pria itu lebih dulu berseru dengan tegang.

"Sikumu berdarah. Lebih baik kita segera ke rumah sakit agar kamu bisa ditangani." pria itu terlihat panik.

Vania dengan cepat menggeleng begitu mendengar satu nama tempat terlarang itu. Wajahnya menyiratkan keengganan, sekaligus ketakutan yang tidak dapat dia sembuyikan.

"Ja-Jangan, Om. Saya tidak apa-apa. Lebih baik saya pulang saja, rumah saya tidak jauh dari sini." tolak Vania dengan ekspresi tegang.

Pria paruh baya itu ingin menolak. Namun saat melihat wajah tegang gadis di depannya dia akhirnya menurut. Tanpa diminta, dia membantu Vania untuk berdiri. Dan kembali tersentak saat mendengar rintihan gadis itu ketika telapak tangannya menyentuh punggungnya.

"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Sepertinya punggung kamu juga terluka." pria itu kembali menawarkan bantuan.

Vania menggeleng tegas, masih kukuh dengan keputusannya di awal. Dia benar-benar tidak ingin pergi ke rumah sakit. Terlalu banyak luka dan ketakutan hanya dengan mendengar nama tempat itu.

"Baiklah, kalau kamu tidak mau pergi ke sana, biarkan saya membantu mengobati luka kamu." putus pria itu tak kalah tegas. Seolah tak ingin gadis di depannya membantah.

Vania akhirnya mengangguk pasrah dan membiarkan pria paruh baya yang belum dia ketahui namanya itu membopongnya ke mobil.

"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menabrak kamu. Saya sedang menerima telfon tadi." ujar pria itu.

Vania tersenyum tipis,"Nggak papa, Om. Em, lain kali jangan nyetir sambil telfonan ya, Om-"

"Heru. Nama saya Heru." pria itu akhirnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan sebelah tangannya.

Vania menyambutnya dengan ramah,"Saya Vania, Om."

Dan dari situlah awal mula Vania dan juga Heru bertemu. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka menjadi lebih dekat.

***