Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CINTA DI UJUNG TANDUK

"Ada apa, Nar? Cerita sama aku." Jaka duduk di depan TV tanpa ragu. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Jenar semalam hingga gadis itu tak bisa dia hubungi.

Bibir Jenar menjadi lebih kering, dia gugup luar biasa. Tidak mungkin dia jujur pada Jaka soal yang terjadi padanya dan Remo. "Kamu kenapa? Duduk aja, kita ngobrol dulu." Jaka meminta Jenar untuk tetap bersikap tenang.

"Ya ... aku gak apa-apa, kok." Jenar duduk di hadapan Jaka, tapi dia agak terlalu jauh seolah sengaja ingin menghindar dari pacarnya itu.

"Kenapa? Baju aku bau?" tanya Jaka sambil menempelkan hidungnya ke ketiaknya. "Gak bau, kok!" katanya polos.

"Bu-Bukan gitu!" Jenar menggoyangkan kedua telapak tangannya.

"Terus apa?" tanya Jaka lagi.

"Ya, itu aku .... aku cuma agak kikuk aja. Maaf, ya." Jenar kehabisan kata-kata.

Sikap Jenar yang tak pandai menutupi perasaannya malah membuat Jaka langsung bisa tahu kalau ada sesuatu yang dia tutupi.

"Kamu tau kamu gak pintar berbohong, Nar. Ada apa sebetulnya?" tanya Jaka dingin. Suara pria itu berubah, raut wajahnya jadi sangat serius.

Jenar mengumpulkan keberanian. Haruskah aku cerita ke Jaka? Tapi apa iya dia bisa terima? Apa gimana ya ..., batin Jenar panik.

"Tadi malam aku gak sengaja minum miras!" ungkap Jenar.

Jaka langsung melototinya. "hah?! Kamu minum minuman keras? Itu kan haram, Jenar! Kamu ini kenapa sih? Ada apa dengan kamu?!" bentak Jaka naik darah seketika. Dia tak bisa mentolerir minum minuman beralkohol.

Respons Jaka yang keras sontak membuat Jenar makin panik. Baru tahu soal minuman beralkohol saja dia sudah seperti terkena serangan jantung, padahal bagian pamungkasnya bukan di situ. Bagaimana Jenar bisa mengungkap soal yang terjadi di antara dia dan Remo kalau sudah begini, bisa-bisa Jaka benar-benar terkena serangan jantung. Jenar tak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Terus habis kamu minum, ada apa lagi? Apa yang terjadi?! Hah?!" tanya Jaka tak sabaran.

"Ha ... enggak, enggak ada yang terjadi kok." Jenar berusaha menutupi.

Wajah Jaka jadi makin mengeras. "Kamu berbohong sama aku, apa kamu lupa kalau pondasi hubungan yang sehat itu adalah kejujuran? Kamu lupa akan hal itu?!" Mata Jaka menatapnya tajam. "Aku tau terjadi sesuatu di pesta itu! Jawab aku, atau aku akan temui teman kerja kamu, si Ratu untuk tanya langsung ke dia!" Jaka tak main-main dengan ancamannya.

Jenar menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Ya, eh ... aku kayaknya mabuk, mungkin mabuk cukup kuat sampe aku lupa apa yang terjadi sama aku semalam."

Alis Jaka langsung mengerut, dia tahu ada yang tak beres."Hah?! Apa? Kamu lupa apa yang terjadi? Itu artinya ... ada sesuatu! Apa? Jangan bikin aku kehilangan kesabaran, Jenar!" bentak jaka.

Jenar menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. "Ya, aku dibawa sama seseorang ke rumahnya semalam ...."

"Siapa?! Kamu udah gila, ya?!" Suara Jaka naik satu oktaf. Jenar terperangah, dia tak pernah melihat Jaka bersikap sekeras ini, amarahnya tak main-main, dia bahkan menyebut Jenar "gila". Jaka yang dia kenal adalah seorang pemuda yang pemalu dan halus, dia adalah pria baik-baik dan pendiam dari keluarga baik-baik pula, gayanya juga sederhana dan dia naif. Namun, hari ini dia menunjukkan sisi yang lain.

"kenapa respons kamu harus sampe kayak gini, sih?" tanya Jenar mulai sebal. "Kesannya aku kayak habis melakukan tindakan kriminal aja!" gerutu Jenar.

"Ya terus apa?! Jangan bertele-tele, langsung bilang sekarang!" teriak Jaka memaksa.

Kenapa sikap Jaka kasar banget? Gak biasanya dia begini, batin Jenar agak takut. "Eh ... ya aku akui aku melakukan kesalahan, aku minum sampe aku kehilangan kesadaran dan kehilangan kontrol, dan aku gak tau kalau ada seseorang yang ngajak aku ke rumahnya karna dia gak tau mau bawa aku ke mana. Ya ... itulah yang terjadi semalam, aku bangun di rumah orang lain." Jenar akhirnya mengaku meski awalnya ragu.

Tak disangka, Jaka langsung mencengkeram kedua lengan Jenar kuat. "Di rumah siapa?! Di rumah siapa? Sama siapa?! Kalian ngapain aja?!" Jaka tak bisa mengontrol dirinya sendiri, dia mengamuk bagai singa kelaparan melahap mangsanya.

"Jaka! Lepasin aku! Lepas dulu! Baru aku cerita ke kamu!" Jenar bergerak gelisah, dia mendorong Jaka agar menjauh darinya.

"Jawab dulu!" teriak Jaka tetap memaksa.

"Aku akan jawab kalau kamu lepasin aku dulu! Kasih aku kesempatan buat bernapas!" jerit Jenar malah makin jengkel melihat sikap kasar Jaka.

Jaka akhirnya mengalah, dia lepaskan cengkeramannya pada Jenar. "Nah ... cerita sekarang! Apa yang terjadi!"

Demi apa pun pada saat itu, Jenar sungguh-sungguh memutar otak supaya percakapan bisa dia alihkan, tapi dia gagal, dia memang harus cerita pada Jaka saat ini juga.

"Hm ... ya, kamu tau ... Ratu itu ternyata anak seorang pemilik perusahaan hiburan, mereka punya management artis." Jenar berusaha memulai kembali dari awal.

"Hm, terus?" tanya Jaka masih tak sabar.

"Ya ... jadi, jadi ... ada banyak selebriti yang datang ke sana. Dan entah gimana ceritanya, ada salah satu model yang ngajak aku minum, dan ... ya dari situlah masalahnya dimulai." Sesekali Jenar melirik pada Jaka.

Ekspresi Jaka masih kebingungan. "Kamu ini ngomong apa? Langsung aja ke intinya!" bentak Jaka tak sabar lagi menghadapi cerita Jenar yang berbelit-belit.

"Ok! Ok!" Jenar menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk reaksi terburuk. Dia siap sekarang.

Hanya karena ulah sembrono seorang selebriti menyebalkan, Jenar terpaksa terjebak dalam drama ini, kali ini Jaka membuat hubungan mereka berada di ujung tanduk. Kalau sampai Jaka tak memaafkannya, maka selesai sudah, habislah semuanya, mereka akan berpisah.

"Aku tadi ... terbangun di rumah salah satu satu selebriti, aku gak tau apa yang terjadi tadi malam, tapi ... kami sama-sama gak pake baju." Jenar membeberkannya dengan suara pelan, hampir tak bisa dijangkau oleh telinga Jaka.

Detik itu juga Jaka langsung berdiri, tangannya menunjuk Jenar. "Kamu tidur sama dia?! Hah?!"

Jenar ikut berdiri dengan panik. "Ja ... jaka! Biar aku jelasin dulu, aku gak tau apa yang terjadi! Kami sama sekali gak saling kenal!"

"Kamu ini udah gila! Aku bahkan gak pernah menyentuh kamu! Megang tangan kamu aja aku takut! Tapi ... bisa-bisanya kamu tidur dengan laki-laki lain yang gak kamu kenal?!" bentak Jaka frustrasi.

"Tapi aku benar-benar gak tau soal itu!"

"Aku gak peduli apa alasan kamu, Jenar! Aku butuh waktu sekarang!" bentak Jaka lagi.

Jenar berusaha menghalangi Jaka yang akan keluar dari kamar kostnya. "To-Tolong! Kasih aku satu kali kesempatan buat mengubah semuanya, aku mohon ..., aku tau aku salah, aku betul-betul gak tau kenapa semalam aku bisa kehilangan kendali." Jenar memeluk Jaka erat-erat agar dia tak meninggalkannya.

Jaka masih diam, berat baginya untuk mengambil keputusan saat ini. "Maaf, aku rasa kita memang perlu waktu untuk sendiri-sendiri dulu. Biarkan aku keluar, Jenar."

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel