Bab 5
Suara kekanak-kanakan itu terdengar jelas di telinga semua orang yang hadir.
Di antara para tamu, tidak sedikit yang memahami bahasa Italia.
Dalam sekejap, ekspresi semua orang berubah-ubah.
Patrick sempat tertegun sesaat, lalu segera menjelaskan dengan wajah tetap tenang.
"Anak kecil asal bicara saja, mohon jangan dianggap serius."
Keenan mengerucutkan bibirnya, matanya penuh ketidakrelaan, masih ingin mengatakan sesuatu.
"Tapi..."
Fransiska melangkah maju dan memotong ucapannya.
"Ini hadiah untukmu, bisa membantumu mewujudkan keinginan."
Sambil berkata demikian, dia menyerahkan map dokumen yang sudah lama dia siapkan kepada Keenan.
Di dalamnya terdapat satu salinan perjanjian perceraian yang sudah dia tandatangani.
Dia pikir, inilah hadiah yang paling diinginkan Keenan.
Setelah terdiam sejenak, dia menambahkan,
"Di dalamnya ada sebuah kunci..."
Awalnya, Fransiska hendak memberitahunya bahwa hadiah-hadiah dari usia enam hingga delapan belas tahun sudah disimpan di dalam brankas, dan dia hanya perlu membukanya satu per satu setiap tahun.
Namun sebelum kalimat itu selesai, Keenan sudah mengangguk asal-asalan.
"Terima kasih, Ibu. Aku mengerti."
Dia sama sekali tidak percaya bahwa hadiah yang dimaksud Fransiska benar-benar bisa mewujudkan keinginannya. Itu tak lebih dari perkataan orang dewasa untuk menenangkan anak kecil.
Map dokumen di tangannya dia letakkan sembarangan ke samping, lalu dengan penuh harap menatap Verlina.
"Bibi Verlina, hadiah apa yang kamu siapkan untukku?"
Verlina mencubit pipinya sambil tersenyum, lalu mengeluarkan hadiah yang telah dia siapkan dari tasnya.
Tiga kaus keluarga.
Di bagian tengahnya tercetak foto wajah besar mereka bertiga yang tampak begitu akrab.
"Ini foto yang kita ambil waktu terakhir ke taman hiburan. Aku membuatnya jadi baju keluarga. Keenan, kamu suka?"
"Wah!"
Keenan berseru kegirangan, mengangkat kaus itu dan menatapnya berulang kali, seolah ingin langsung memakainya saat itu juga.
"Aku suka sekali! Besok, lusa, dan seterusnya... aku mau terus memakainya!"
Kebetulan fotografer yang disewa Keluarga Lumanto sudah tiba dan bersiap mengambil foto bersama pesta ulang tahun.
Mata Keenan berbinar. Dia menarik lengan baju Patrick.
"Ayah, bagaimana kalau kita dan Bibi Verlina ganti baju ini lalu foto bersama?"
Patrick yang biasanya hanya mengenakan setelan resmi, kali ini justru tidak menolak.
Setelah berganti pakaian, ketiganya tampak persis seperti satu keluarga kecil.
Saat sesi foto resmi dimulai, Patrick mengernyit dan menoleh ke arah Fransiska yang sejak tadi berdiri di samping.
"Kenapa tidak ikut foto?"
Melihat mereka bertiga mengenakan pakaian keluarga dan berdiri rapat tanpa celah sedikit pun, Fransiska menarik sudut bibirnya.
"Sedikit lelah. Kalian saja."
Patrick tidak berpikir panjang dan langsung memberi isyarat kepada fotografer untuk mulai memotret.
Verlina dan Patrick berdiri di kiri dan kanan Keenan.
Agar hasil foto lebih baik, fotografer meminta keduanya berdiri lebih dekat.
Sedikit demi sedikit mereka bergeser, hingga bahu keduanya saling bersentuhan.
Keduanya sama-sama tertegun dan refleks saling menatap.
Di mata Patrick yang biasanya dingin, jarang-jarang terlihat semburat kelembutan.
Pipi Verlina memerah tipis.
Keenan berdiri di depan mereka, menggenggam tangan keduanya, menampilkan senyum yang begitu bahagia.
Di sekeliling, para tamu mulai berbisik pelan.
"Tadi anaknya berharap wanita lain jadi ibunya, sekarang pakai baju keluarga dan foto bersama. Nyonya Lumanto ini benar-benar bisa menahan diri."
"Kalian tidak tahu. Dulu waktu di luar negeri, Tuan Patrick dan cinta pertamanya sangat dekat. Dia melamar sampai seratus kali. Kalau saja cinta pertamanya tidak menunda pernikahan, posisi Nyonya Lumanto sekarang mana mungkin jatuh ke tangannya."
"Kalau begitu, cinta sejatinya Tuan Patrick memang cinta pertamanya. Sekarang dia sudah kembali ke negara ini, menurut kalian apakah akan..."
Mendengar bisik-bisik itu, Fransiska tiba-tiba teringat adegan enam tahun lalu, saat Patrick melamarnya.
Tidak ada bunga, tidak ada cincin, bahkan tidak ada pernyataan cinta.
Hanya satu kalimat singkat, "Maukah kamu menikah denganku?"
Kalimat itu membuatnya nekat terjun ke dalam pernikahan ini seperti ngengat yang mengejar api.
Bahkan setelah tanpa sengaja mengetahui kisah masa lalunya dengan Verlina, dia tetap berpegang pada pikiran bahwa dirinya adalah istri sah, dan suatu hari nanti Patrick pasti akan mencintainya.
Namun butuh enam tahun penuh baginya untuk menyadari satu hal.
Hati yang telah ditempati orang lain, tidak mungkin bisa dihangatkan.
Tak peduli seberapa besar usahanya, selama orang yang tersimpan di lubuk hati itu muncul kembali, dia pasti akan kalah telak.
Melihat tatapan Patrick yang tanpa sadar tertuju pada Verlina, Fransiska terkekeh pelan.
Untungnya, tidak lama lagi, pernikahan yang seharusnya tak pernah dimulai ini, akan segera berakhir.
