Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 05

Nesya mungkin dari awal dia sudah salah dalam mengambil jalan dan masuk ke kehidupan Rehan, ya Nesya salah dalam mengambil langkah. Nesya yang pada akhirnya masuk ke dalam rumah Rehan dan mengenal semua keluarga Rehan.

Entah pertama kali Nesya datang ke rumah Rehan pandangan keluarganya ke Nesya itu bagaimana Nesya sendiri juga tidak tahu, Nesyq beranggapan bahwa pasti keluarga Rehan menganggap Nesya itu perempuan tidak benar atau apalah.

Nesya sendiri sebenarnya tidak pernah mau bahwa Rehan mengajak ke rumahnya dan mengenalkan kepada keluarganya apa lagi Rehan juga sering menyuruh Nesya kerumahnya dan itu harus kalaupun Nesya tidak datang pasti Rehan marah, sungguh itu bukan kemauan Nesya untuk samperin laki-laki dengan begitu bisa dianggap murahan atau apalah.

Sampai detik ini Nesya masih saja menyesali pertemuannya dengan Rehan dan sampai mengikat hubungan walau kadang Nesya juga sangat memerluhkan Rehan karena uangnya atau yang lainnya jujur saja Nesya dari awal hanya ingin memanfaatkan Rehan namun kenyataannya jadi begini.

Rehan orangnya baik,penyanyang,lembut dan juga pengertian tapi orangnya juga keras, Nesya sendiri lama kelamaan mulai mengetahui sifat-sifat yang ada di diri Rehan hanya satu kelemahan Rehan di baik dan kebaikan dia di manfaatkan sehingga ia kadang di bohongi oleh orang bukan soal bisnis tapi soal wanita dan sahabat yang intinya tidak tahu terima kasih sudah di kasih jantung minta hati ya begitulah orang.

“Sayang kamu lagi mikirin apa,”ucap Rehan tepat di telinga Nesya, ya Rehan memeluk Nesya dari belakang. Nesya sedang berada di balkon Apartemen milik Rehan.

“Aku tidak memikirkan apa-apa hanya melihat pemandangan kota malam hari sambil menghirup udara malam yang begitu dingin,”ucap Nesya dengan matanya memandang kedepan. Mungkin karena malam ini gerimis jadi udaranya agak dingin.

“Lebih baik kita masuk kedalam aku nggak mau kamu kelamaan di luar dan nantinya sakit,”ajak Rehan. Mereka berdua pun masuk kedalam dan Rehan juga menutup pintu balkon agar angin malam tidak masuk kedalam.

“Sayang kamu mau minum yang hangat-hangat biar aku buatin kamu mau minum apa?”tanya Rehan

“Mungkin kopi hangat,”ucap Nesya menoleh ke Rehan yang ada di depannya.

“Baiklah kamu tunggu di sini aku akan membuatkan untukmu,”ucap Rehan lalu berlalu pergi keluar dari kamar.

Nesya menoleh kepergian Rehan Hadinata, Nesya menatap sangat dalam sambil terus berpikir kenapa seorang Rehan harus seorang duda kalau boleh jujur aku menolak semua yang Rehan sandang sebagai duda. Nesya berpikir lebih jauh lagi memikirkan tentang Alex sama seumuran dengan Rehan tapi ia belum pernah menikah sama sekali namun kenapa ia menyia-nyiakan Alex dan lebih memilih Rehan.

Nesya beranggapan bahwa dirinya bodoh ia menyia-nyiakan Alex meninggalkan Alex secara halus dengan tidak berhubungan dengan Alex lagi. Nesya sebenarnya ada kata menyesal tapi sungguh Nesya sendiri juga nggak tahu kenapa ia bisa jatuh kepelukan Rehan apa Rehan punya guna-guna memikat wanita.

Ini zaman sudah modern memang ada yang seperti itu? Jawabannya pasti ada namun Nesya juga tak percaya kalau Rehan percaya begituan.

“Sayang ini,”ucap Rehan dua tangan yang membawa dua cangkir kopi yang satu untuk dirinya dan yang satu untuk Rehan. Nesya mengambil cangkir yang berisikan kopi itu lalu ia meminumnya sedikit.

“Apa kamu suka dengan Apartemen ini?”tanya Rehan yang kini duduk di samping Nesya.

“Ya aku suka sangat rapi dan bersih apa lagi kalau malam pemandangan kota Jakarta dari atas sini terlihat sangat indah,”ucap Nesya

“Apa kamu mau tinggal di sini?”tanya Rehan

“Sepertinya aku pikirkan dulu aku nggak mau keluarga kamu tahu aku tinggal di sini di kira nantinya aku perempuan apa ya memang aku bukan perempuan baik-baik,” ucap Nesya

Nesya berdiri dan menaruh cangkir yang berisi kopi tadi di taruhnya di meja, Nesya berlalu ke kamar mandi. Rehan masih duduk dengan melihat Nesya yang sudah tak terlihat lagi.

Sedangkan Nesya di kamar mandi ia sedang menatap dirinya di depan kaca, Nesya lagi-lagi yermenung entah banyak yang di pikirkan rasanya kalau boleh memutar waktu mungkinlebih baik memilih tak di lahirkan di dunia ini.

Nesya ingin rasanya bunuh diri namun ia takut, jujur saja Nesya capek dengan semua ini namun ia tak ada jalan lain ia takut bunuh diri lalu ia mau lari kemana lagi sudah tak terpikrkan oleh Nesya lagi.

Rehan mengetuk pintu kamar mandi karena Rehan khawatir dengan Nesya, karena dari tadi tidak keluar-keluar dari kamar mandi. Rehan beberapa kali mengetuk pintu akan tetati ia tak mendapi respon dari Nesya sampai akhirnya yang terakhir kali Nesya menyaut.

Rehan sangat lega karena Nesya tidak kenapa-kenapa, Rehan sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu pada Nesya, Rehan sangat menyanyagi dan mencintai Nesya dengan sangat tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Nesya keluar dari kamar mandi dan tersenyum kepada Rehan, Nesya mendekati Rehan dan memeluk Rehan dengan sangat erat sekali.

“Kamu kenapa tadi mengetuk pintu keras sekali?” tanya Nesya.

“Karena aku sangat menghawatirkan kamu, kamu lama sekali di dalam,” ucap Rehan.

“Maaf tadi aku sakit perut, lebih baik kita istirahat saja,” ucap Nesya dan Rehan pen melepaskan pelukkannya dan mengangkat Nesya dengan tiba-tiba dan menidurkannya di kasur. Rehan tidur disamping Nesya.

“Selamat malam sayang, semoga mimpi indah,” ucap Rehan lalu mencium kening Nesya dan memeluknya.

“Selamat malam juga sayang,” ucap Nesya lalu memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap begitu juga dengan Rehan.

Sinar matahari pagi masuk kedalam kamar Rehan dan Nesya melalui celah jendela, ya pagi sudah datang akan tetapi Rehan dan Nesya masih tidur. Karena hari ini hari sabtu maka Rehan libur kerja, biasanya Rehan menghabiskan waktu liburnya dengan anak dan keluargan.

Namun tidak untuk kali ini, Rehan ingin menghabiskan waktu berduaan hanya dengan Nesya. Ingin sekali Rehan mengajak liburan Nesya ketempat yang jauh dan tentunya dengan suasana yang sangat romantis.

Rehan terbangun terlebih dahulu dan melihat Nesya yang masih tertidur, Rehan mencium kening Nesya lalu setelah itu ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Nesya yang terusik tidurnya membuka mata dan melihat disamping sudah tak ada Rehan, Nesya mengedarkan pandangannya kesegala arah dan pintu kamar mandi tertutup menandakan Rehan sedang mandi.

Nesya tersenyum tipis entah kenapa suasana pagi ini begitu mebuatnya tenang dan melupakan beban yang ada dipikirinnya hilang walaupun hanya sementara. Nesya turun dari ranjang menuju kedapur dan mengambil air untuk diminum.

Nesya lalu membuatkan Rehan secangkir kopi hitam, dan meletakkannya di nakas samping tempat tidur. Nesya membuka pintu balkon dan menghirup udara pagi ini, Jakarta pagi ini sangat cerah dan tidak ada tanda-tanda akan hujan. Nesya merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara pagi dalam-dalam.

Tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang dan mencium pipinya, siapa lagi kalau bukan Rehan yang masih mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.

“Sayang kok sudah bangun,” ucap Rehan tepat disamping telinga Nesya.

“Iya, aku juga sudah buatin kamu kopi buruan diminum nanti keburu dingin,” ucap Nesya menoleh ke Rehan dan mengelus rambut Rehan yang masih basah.

“Makasih sayang,” ucap Rehan lalu ia melepaskan pelukkannya dan masuk kedalam mengambil kopi yang dibuatkan Nesya.

Rehan menyesap kopi itu lalu kearah lemari dan mengambil kaos serta celana bahan pendek, Rehan memakainya dan setelah itu Rehan kembali ke balkon dengan membawa secangkir kopi dan meletakkan di meja yang berada di balkon.

“Sayang kamu nggak mandi dulu?” tanya Rehan.

“Bentar lagi Re,” ucap Nesya

“Hari ini kamu ingin pergi kemana, nanti aku anterin kita habisin waktu berdua kita selama dua hari,” ucap Rehan menoleh ke Nesya.

“Hari ini aku hanya ingin di Apartemen bersama kamu Re, kamu mau kan,” ucap Nesya

“Ya pasti mau sayang yang penting bersama kamu,” ucap Rehan dan memeluk kembali Nesya.

Rehan lalu mengangkat Nesya dan membawanya kedalam dan menidurkannya di kasur, Rehan berada di atas Nesya. Rehan mendekatkan bibirnya ke bibir Nesya lalu menciumnya dengan sangat lembut.

Namun ciuman Rehan lama kelamaan menjadi sangat bergairah dan penuh nafsu, ciuman Rehan lalu turun kebawah dan memberi tanda kepemilikannya di leher Nesya. Tanpa Nesya sadari ia mengeluarkan desahan dan itu sangat membuat Rehan bersemangat untuk melanjutkan yang lebih lagi.

Ya memang selama Nesya bertemu dengan Rehan dan menjalin hubungan mereka jadi lebih sering melakukan hubungan intim di mana saja dan saat waktu yang tepat. Rehan juga selalu mengeluarkannya dirahim Nesya benih-benih cinta yang mungkin suatu hari nanti itu bisa membuat Nesya mengandung anak Rehan.

Semula Nesya dan Rehan bertemu dan demi kepuasan dan uang namun entah kenapa Rehan sangat tertarik dengan Nesya, ya walaupun bisa dibilang Nesya seperti wanita jalang yang menjual tubuhnya ke laki-laki hidung belang namun Rehan tak peduli dengan itu semua.

Ya kini Nesya dan Rehan sedang menikmati percintaan mereka, Nesya mendesah sangat kencang memenuhi kamar Apartemen milik Rehan dan untuk saja Apartemen milik Rehan ini kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengarkannya.

Entah sudah berapa kali Rehan memasuki Nesya dan itu juga belum membuat Rehan puas. Kali ini Rehan melakukannya dengan tempo yang sangat cepat karena ia sebentar lagi akan keluar begitu juga dengan Nesya yang sebentar lagi akan keluar lagi.

Tak berapa lamapun Rehan menyemburkan spermanya didalam rahim Nesya, Rehan mengulingkan badannya kesamping untuk istirahat, Rehan menyeka keringat Nesya, Rehan tahu Nesya kualahan dengan nafsu Rehan yang sangat mengebu-gebu setiap kali melakukan hubungan intim pasti Rehan melakukannya berulang kali hingga membuat Nesya lemas bahkan pagi harinya tidak bisa berjalan dan terpaksa Rehan tak pergi bekerja karena menemani Nesya ya karena ulahnya juga.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel