Bab 9. Cinta yang tak pernah lekang
"Apa yang kau lakukan disini, Yud?" tanya Tania heran.
"Apa?! Enak saja kalau ngomong. Bukankah kamu yang merengek kepada Ayahku, untuk memasangkan pegangan pintu malam ini juga?" sanggah Yudi kesal.
"Apa?!" Tania memijat keningnya, ia merasa ada kesalahan di dalam semua ini.
"Ya ampun! Aku hanya membawa pegangan pintu kepada Om Rangga, hanya untuk berdiskusi mengenai pegangan pintu yang unik dan indah ini. Bukan untuk memintanya segera memasangkannya?" jelas Tania.
Ia berusaha naik ke lantai atas, ke ruangannya mengambil aspirin dan menelannya sebutir. Ia benar-benar pusing akan semua kejadian semalaman ini. Kolega yang membuat pusing, Martin yang menyebalkan, semua bercampur aduk memusingkan kepalanya.
"Untung saja, ini otak made in Allah SWT. Bila made in abal-abal, ga tau deh!" umpat batinnya.
Ia berusaha mencerna setiap kata dengan sebaik-baiknya, Tania tidak ingin pertengkaran kembali lagi di antara mereka.
Ia mencoba untuk fokus dan berpikir jernih, semua ini adalah sebuah kesalahpahaman yang seharusnya diluruskan secara baik-baik dan dengan kepala dingin.
"Kata Ayah, 'Kau ingin segera memasangnya, karena kau akan mengadakan pesta,' jadi ia memaksaku harus malam ini juga memasangnya." Yudi memperhatikan segala tingkah Tania yang sudah duduk di tempat tidurnya.
Yudi hanya berdiri di tengah pintu masuk, bersandar ke salah satu kusen pintu masuk.
Ia tidak ingin mereka bertengkar lagi seperti yang sudah-sudah.
Ia melihat Tania begitu lelahnya, sehingga ia tidak berkeinginan untuk bertengkar dengannya. Apalagi, bayangan pemuda itu masih saja menari-nari di pelupuk matanya, ia benar-benar cemburu setengah mati.
"Aku rasa ... Om Rangga salah mengerti akan maksudku, padahal aku hanya ingin minta sarannya. Lagian, aku membuat pesta untuk apa? Rumah ini belum selesai," balas Tania memandang ke arah Yudi.
"Berhubung sudah terlanjur aku pasang, sebaiknya mari kita lihat saja! Sesuai tidaknya dengan seleramu," ajak Yudi.
Keduanya pergi dari daun pintu ke daun pintu lainnya, melihat hasil pekerjaan Yudi. Tania begitu puas dan girangnya, "Semuanya sempurna, aku sangat suka!" balas Tania.
Ia begitu senangnya, semua sesuai dengan impiannya selama ini.
Keduanya saling pandang, mencoba memahami satu dengan yang lain. Debar-debar hangat mulai merayap menyentuh kalbu, keduanya membisu.
Keduanya berdiri bersisian, saling berhadapan. Debar kerinduan merayap di sana dengan sejuta rasa dan makna, yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Mereka saling mengunci pandangan satu dengan yang lain, keduanya sama-sama melangkah mendekat. Namun, terhenti seketika,
"Baiklah, mungkin sejak sakit. Ayahku sedikit ngelantur, sudahlah ... aku ingin pulang. Berhati-hatilah, kunci pintumu Xena!" ucap Yudi, "aku tidak ingin sesuatu akan terjadi denganmu, selamat tidur dan bermimpi!" lirih Yudi.
Ia keluar dari rumah Tania, ia takut ia akan melakukan sebuah kesalahan lagi. Sehingga membuat segalanya berantakan seperti yang sudah-sudah, mereka berdua bagaikan air dan minyak, sulit untuk bersatu.
Tania memandang kepergian Yudi dengan sepeda motornya, ia menutup pintu dan menguncinya. Menaiki anak tangga satu demi satu, ia masih merasakan sesuatu yang meletup-letup di relung hatinya.
Ia memasuki kamar mandi membersihkan diri dan membersihkan make up, yang masih menempel di wajahnya.
Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, ia masih merasakan sesuatu yang mengganjal di benaknya.
"Mengapa aku begitu menginginkan Yudi ada di sini? Apakah aku sudah gila?" cicit Tania.
Ia masih saja mencari-cari sebuah alasan, yang masuk akal dan bisa dicerna oleh logikanya.
Bayang-bayang masa lalu, di saat masa kanak-kanak mereka kembali membekas memaksanya untuk mengenang lagi.
Di mana Yudi yang selalu enggan berteman dengannya, dengan sejuta alasan selalu saja menolak bila mereka ingin bermain bersama.
Yudi sama sekali tidak suka dengan kehadiran Tania, bila ia mulai ikut bermain dengan Yudi dan Tito sang Kakaknya.
Yudi dari kecil hingga dewasa bahkan hingga kini, ia masih saja sangat tampan. Sayangnya, sifat yang dingin dan kata-katanya yang tajam sangat menyakitkan, merupakan nilai minus untuknya.
Tania mengingat setiap detail masa kecil mereka, "Entah mengapa, sejak Yudi hadir kembali di kehidupanku? Aku merasakan masa kecil kami terulang lagi," lirih Tania.
Ia berusaha memejamkan mata, tetapi jiwanya masih saja berbicara mengenai Yudi, pikirannya masih saja mengenang masa lalunya yang indah, lucu, dan pertengkaran yang selalu terjadi di antara mereka.
Sementara Yudi, ia pulang ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, ia selalu saja dihantui perasaan cemburu dan amarah, yang tak tersalurkan. Semua itu akibat ulah, pria cabul yang bernama Martin.
Di dalam bayangannya, segala perbuatan si cowok cabul itu begitu membekasnya, ia ingin sekali merontokkan giginya atau membuat tanda biru di wajah tampannya.
Sehingga si pria cabul tersebut tidak lagi menggoda semua wanita, dengan pesona wajah tampannya. Namun, Tania sudah mewakilinya hanya saja.
Rasanya Yudi belum puas juga, sebelum ia melayangkan bogeman mentahnya di wajah si wajah tampan yang Playboy bin Mata keranjang.
Yudi memarkirkan sepeda motornya di basement parkir apartemennya, ia memasuki ruangan miliknya. Ia merasa sebuah kehampaan menyerangnya, "Terasa sepi? Coba kalau aku punya anak dan istri, mereka pasti sudah menyambutku!" lirihnya.
Selama ini, Yudi tidak pernah berpikir akan rasa kehampaan dan kesepian dimana pun ia berada. Ia selalu menikmati segala sepinya, bahkan ia begitu senangnya.
Dikarenakan tiada seorang pun yang berani, mengusik gua persembunyiannya untuk ia bertapa.
Akan tetapi, akhir-akhir ini sejak Tania kembali mengusik kehidupannya.
Ia merasakan sesuatu kehampaan dan kesepian, bila ia tidak melihat wajah, senyuman, dan pertengkaran di antara mereka. Ia memandang sekitarnya, apartemen dengan barang-barang mewahnya tertata rapi juga bersih.
Namun, semuanya hanyalah keheningan. Sebuah fatamorgana yang menyesatkan, tiada suara ribut anak-anak, ruangan yang berantakan dan kotor akibat ulah anak-anak bermain.
Semuanya hanyalah kesepian yang indah, tetapi terasa hampa. Laksana cahaya yang terpantul dari cermin tiada tantangan dan sebuah harapan. Semuanya tetap sama baik di luar dan di dalam.
Ia rindu teriakan seorang anak-anak, seperti masa kecilnya dulu saat bersama dengan Tito, Tantri, dan Tania.
Mereka akan selalu bertengkar dan tertawa bersama, saling berebut mainan juga makanan. Berlarian di sekitar rumah, "Usiaku, benar-benar sudah matang. Aku harus menikah, apakah Tania mau menjadi istriku?" ucapnya tanpa sadar.
Ia meneguk minuman kalengnya, berselonjor dengan kedua kaki di atas sofanya. Ia mencoba memejamkan matanya, meletakkan tangan menutup matanya, ia ingin melupakan sejenak bayangan Tania.
Namun, selalu saja ia mengalami kegagalan dan kebuntuan. Kini, ia merasakan sesuatu rindu dan perasaan mendamba yang begitu besarnya.
Kerinduan yang menghentak-hentak di seluruh jiwa raganya untuk tersalurkan lewat sebuah pelampiasan yang indah dan nyata.
Kesemuanya itu mampu ia raih, asalkan Tania bersedia menjadi istrinya. Ia akan segera menghalalkan Tania, bila ia mau menjadi miliknya.
Ia benar-benar pusing tujuh keliling, "Bagaimana caranya, agar Tania mau menjadi istriku?" batin Yudi.
Sekali ini, Yudi benar-benar jatuh cinta yang teramat dalam. Walaupun sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar mencintai seorang wanita mana pun.
Semenjak dahulu, hati dan perasaannya hanya terpaut kepada Tania, hanya saja ia sangat malu untuk mengakuinya. Ia melarang Tania untuk tidak ikut bermain perang-perangan dengannya atau bermain bola.
Semua itu ia lakukan, karena ia tidak ingin Tania terluka. Ia sangat menyayanginya, karena ia hanyalah anak tunggal di keluarganya. Ia sangat menginginkan seorang adik perempuan yang manis dan lembut juga penurut.
Berbeda jauh dengan Tania, ia begitu sulitnya diatur. Mereka selalu bertentangan, "Bila aku menyuruhnya ke kanan, maka ia akan melangkah ke kiri .... " batin Yudi.
Ia ingin Tania tidak terluka, akan tetapi Tania merasa Yudi terlalu mendiskriminasikan gender. Tania merasa bahwa Yudi selalu mengkotak-kotakkan antara wanita dan pria, baik itu permainan maupun cara pola pikir.
Padahal semua itu Yudi lakukan, agar Tania tidak terluka. Namun, Tania selalu saja salah persepsi akan semua hal. Sehingga mereka selalu bentrok dan bertengkar, setiap kali bertemu sampai sekarang.
Jauh di relung hati kecilnya, Yudi begitu bangganya akan semua prestasi Tania, ia menyandang sabuk hitam beladiri taekwondo se provinsi, lulus dari fakultas hukum Harvard Boston dengan nilai magna cum laude.
Semua itu adalah kebanggaan yang sangat luar biasa, walaupun sudah 7 tahun mereka tidak bertemu. Namun, Yudi selalu saja mendapat kabar mengenai Tania dari Tito maupun Tantri, sebagai kakak dari Tania sendiri.
Di belakang punggung Tania, mereka selalu bertukar gosip mengenai Tania. Walaupun Yudi hanya mendengarkannya sebagai angin lalu, tetapi ia selalu mencatat segalanya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Cinta memang aneh, datang tidak pernah mengenal undangan dan selamanya tinggal tanpa permisi. Cinta juga tidak mengenal istilah untuk membuat surat keterangan dari si pemiliknya, berapa lama ia ingin tinggal.
Cinta juga tidak butuh permisi, kala ia ingin pergi sesuka hatinya, bak seorang tawanan yang kabur meninggalkan hutangnya.
Sekali ini, Yudi benar-benar mati kutu. Ia tidak pernah menyangka rasa cintanya kepada Tania, sudah merasuk ke setiap nadinya. Untuk terakhir dan pertama kalinya, ia pacaran hanya dengan teman sekelasnya Ratna.
Setelah itu ia tidak pernah pacaran lagi dengan wanita mana pun, ia juga tidak mengetahui mengapa demikian?
Ia hanya menjalani sebuah kehidupan, dengan garis yang sudah ditetapkan olehNya Sang Pemilik Jiwa.
Ia selalu mengingat kenangan akan Tania, walaupun Tania pergi meninggalkan semuanya. Ia kuliah ke UGM Yogyakarta, sekitar 3 tahun dan melanjutkan pendidikannya ke Negeri Paman Sam sekitar 3 tahun.
Tania baru kembali ke Indonesia 1 tahun yang lalu. Yudi juga mengetahuinya, tetapi ia tidak pernah menemuinya. Entah mengapa demikian, ada rasa takut juga rindu bersamaan. Namun, ia selalu menepisnya.
Ia hanya melihat dari kejauhan, ia hanya menjaganya dari sesuatu di balik layar. Yudi mengenang sekelumit rasanya, hingga kini rasa itu semangkin berkembang jauh.
Pelan tapi pasti, mulai tumbuh dan berkembang dengan pesatnya. Ia tidak lagi mampu untuk mengendalikannya, ia semangkin terpuruk akan sebuah rasa yang ia sendiri pun bingung untuk mengartikannya.
Tania sudah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dan menawan, "Bukankah dari kecil ia memang cantik?" batin Yudi berteriak.
Rasanya ia tidak rela, bila sebagian jiwanya mengatakan keburukan akan Tania. Baginya Tania adalah wanita yang nyaris sempurna, walaupun kesempurnaan hanyalah milik Sang Maha Pengasih.
Yudi tersenyum, mengenang gadis manis dengan gigi ompong di depannya, yang selalu membawa Palu Thor maupun pedang Xena.
Kerap kali mengejarnya berkeliling rumahnya maupun rumah Yudi sendiri, Yudi terbahak mengenang gadis kecil kurus dengan rambut ala Dora.
Tania begitu marahnya bila Yudi mengejeknya, "Woi, Jantan tak berte**r!" Tania akan selalu mengejarnya dengan Palu Thor plastiknya.
Kini semua kenangan itu, begitu indahnya. Ia tidak menyangka bila semua itu, akan menjadi sepenggal kisah indah di perjalanan hidupnya. Padahal dulu, dia begitu sebal bahkan benci bila berhadapan dengan Tania.
Sebisa mungkin Yudi menghindari, makhluk ciptaan Tuhan yang bernama Tania. Ia merasa Tania adalah produk wanita gagal yang mengerikan, "Seharusnya ia jadi lelaki saja," celanya.
Setiap kali mereka terlibat pertengkaran, masalahnya Yudi bingung bila bertengkar dengan Tania. Ia ingin memukulnya, tapi nalurinya sebagai pria. Ia tidak tega memukul wanita, seperti yang selalu diajarkan kedua orang tuanya.
Akhirnya, ialah yang selalu menderita dibuat Tania. Ia tidak mampu untuk melawan, bukan karena ia tidak mampu. Akan tetapi karena rasa kasih dan sayangnya kepada Tania.
Cinta benar-benar membuatnya menjadi budak dan tidak berkutik, kini ia menyadarinya. Semenjak kecil ia sudah bertekuk lutut kepada Tania, tanpa ia sadari selama ini.
Yudi tidak bisa memejamkan matanya, bayangan Tania benar-benar menghantuinya.
Setali tiga uang, begitu juga dengan Tania di rumahnya.
Ia juga sudah bolak-balik mengubah posisinya, ia masih saja tak mampu memejamkan matanya. Yudi masih saja menarik-narik dirinya untuk kembali ke masa lalu,
"Yudi selalu saja mengalah, ia selalu saja membuatku bahagia. Ia tidak pernah menyakitiku," lirihnya, "lalu, mengapa kami selalu bertengkar? Di mana salah semua ini," batin Tania.
Ia mencoba menelaah semua kejadian demi kejadian masa lalu mereka, di mana letak kesalahan semua itu. Sehingga mereka kerap kali bertengkar, tak seorang pun yang mau mengalah dan mengurangi sedikit egois mereka.
Malam semangkin larut, keduanya masih saja berpikir dan saling menyalahkan. Keduanya terus mencari sebuah solusi untuk semua kejadian di antara mereka.
Suara kokok ayam sudah menandakan subuh telah datang membawa sebuah harapan baru, Tania maupun Yudi melakukan semua kewajiban mereka sebagai muslim yang taat.
Keduanya bermunajat akan cinta mereka, saling mendoakan dikala jauh dan menjaga. Walaupun hanya lewat sebuah do'a yang mereka lantunkan.
Yudi tidak ke rumah Tania, ia menyerahkan semuanya kepada Tigor dan kru-nya yang lain. Ia ingin memutuskan berjalan-jalan sejenak. Ia ingin meluangkan dan menjernihkan pikirannya tentang Tania, agar segalanya jelas.
Tania pun tidak masuk ke kantor, ia pergi menyelidiki kasusnya akan trafficking yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat.
Polisi sudah menangkap beberapa tindak kriminal, akan tetapi sebuah hukum tetap ditegakkan untuk terdakwa. Sebagai pengacara penuntut ia berkewajiban untuk menyelamatkan si korban di dalam semua kasus yang menimpanya.
Tania tidak ingin si pelaku kejahatan, akan terus berkeliaran dengan bebasnya dan melakukan aksi kejahatannya lagi dan lagi.
