Pustaka
Bahasa Indonesia

Cinta Dalam Doa

82.0K · Tamat
Romansa Universe
80
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Seorang gadis yang cerdas, cantik dan anggun berusia 23 tahun. Dia adalah Aisyah. Dia hanya tinggal berdua dengan seorang abang, yang berumur 25 tahun bernama Adam. Orang tuanya telah tiada saat dia kecil di sebabkan pembunuhan berencana. Karena sifatnya yang lembut, membuat dia banyak di sukai oleh santri di pesantren itu.Penantian cinta yang selalu di tunggu. Dia selalu mendambakan sebuah hubungan, yang di isi dengan sepasang lelaki dan wanita berpacaran dalam bentuk halal.

RomansaPernikahan

Bab 1 Pagi yang Manis

Bab 1 Pagi yang Manis

Aisyah Khumaira, adalah seorang gadis berumur dua puluh tiga tahun. Gadis yang cantik, anggun, putih, hidung mancung, berperawakan tinggi bagi kaum Hawa dan langsing pastinya. Aisyah masih berkuliah jurusan PAI (pendidikan agama islam). Karena dia ingin sekali menjadi guru untuk pesantren yang berada tepat di samping rumahnya. Kalau ditanya status, dia berstatus single. Sedang mencari yang pas untuk diajak halal dan membangun rumah impian dan keluarga harmonis bersama.

Kakanya Aisyah bernama Adam. Adam As-Syauqi berumur dua puluh lima tahun. Meneruskan usaha bisnis almarhum Ayah. Dia juga berstatus single pastinya.

Adam susah dekat dengan wanita. Entah mau sampai kapan segala keperluannya Aisyah yang siapkan.

Bukan tidak mau berbakti dengan kakak sendiri, hanya saja sepertinya, umurnya itu sudah layak untuk berumah tangga.

Dari kecil Aisyah hanya tinggal bersama kakaknya. Dia yang selalu ada untuk Aisyah, pegangannya, dan juga sandaran satu-satunya yang dimiliki Aisyah.

Ibu dan ayah meninggal saat Aisyah kelas empat SD dan kakaknya kelas satu sekolah menengah pertama. Ayah menjadi korban pembunuhan yang pelakunya adalah teman ayah sendiri. Motifnya karena iri melihat kesuksesan ayah.

Sejak saat itu, Aisyah dan Adam berada di pesantren yang telah lama orang tua mereka bangun. Walau begitu Adamlah yang selalu ada untuk Aisyah. Aisyah sangat menyayangi Adam. Walaupun terkadang menjengkelkan.

---***---***---

Pagi yang cerah, sinar mentari yang menyilaukan bumi, seperti sebuah pelengkap hidup bagi Aisyah. Sejak Adam mengambil alih usaha ayah, mereka berdua tinggal di rumah peninggalan ibu dan ayah.

Di setiap sudut rumah selalu ada kenangan orang tua yang Aisyah sayangi. Begitu teringat jelas, kala ayah dan ibunya memanjakan dirinya dan bermain bersama di rumah itu.

Mentari pagi masuk ke kamar Aisyah, membangunkan Aisyah dan membuat matanya perlahan terbuka oleh pancaran silaunya.

Hari itu hari pertama Aisyah melakukan aktifitas kuliah, setelah sekian lama libur semester berakhir.

Seperti biasa Aisyah langsung mandi dan bersiap, tak boleh terlambat masuk sekolah atau pun kuliah. Apalagi, hari ini adalah pagi pertama setelah free.

Setelah selesai, Aisyah segera turun ke bawah. Terlihat di sana Adam sedang duduk manis di ruang makan, sedang membaca koran sambil menunggu Bibi, asisten rumah tangga mereka yang membawakan sarapan untuk mereka santap.

"Pagi Abang," Sapa Aisyah mengejutkan Adam. Kemudian Abang melotot dan menarik napasnya panjang.

"Assalamualaikum adikku," Adam mengejek Aisyah dengan ucapan salamnya.

"Ah iya, kok aku jadi lupa salam ya bang?" Ucap Aisyah sambil tersenyum malu dan tertawa meringis.

"Assalamualaikum Abang kesayangannya Aisyah," Salam Aisyah sambil mencium tangannya.

"Waalaikumsalam," Jawab Adam, lalu tersenyum.

Ya seperti itulah kebiasaan pagi mereka, selalu berbagi tiga S, yaitu salam, sapa, dan senyum.

"Mau kemana pagi ini, sudah rapi sekali?" Tanya Adam sambil memperhatikan penampilan adiknya.

"Hari ini jadwal kampusku dimulai bang, setelah sekian lama berlibur semester. Hari ini adalah hari yang sangat aku rindu dan nantikan," Ungkap Aisyah sambil tersenyum bahagia.

"Mengapa? Oh... apakah sekarang ada lelaki di kampus yang ingin sekali kamu temui? Sampai-sampai, kau sangat merindukan kampusmu dibandingkan Abangmu sendiri," Tukas Adam menerka-nerka.

"Idihh... tidak ada Bang! Aku itu rindu teman, rindu kampus dan rindu suasana belajar. Jangan mentang-mentang keinginanku untuk bisa nikah muda, aku jadi centil dan punya hubungan spesial bersama laki-laki sebelum menikah, dalam arti pacaran. Kalau pun ada nanti, Abang adalah orang pertama yang harus tahu dan dia harus minta izin sama Abangnya Aisyah dulu untuk ta'aruf denganku,"jelas Aisyah panjang lebar. Sementara Adam, dia hanya terdiam saat melihat adik kesayangannya menjelaskan tanpa jeda.

Sambil menyantap menu pagi itu.

"Euhm baiklah, kenapa harus bicara panjang seperti kereta api hanya karena pertanyaan sepele seperti ini? Kalau memang tidak ada, kenapa kau jadi marah dengan Abangmu sendiri?" Tanya Adam heran dengan jawaban Aisyah yang panjang.

"Aku hanya tidak suka kalau Abang mengira, aku sama seperti wanita kebanyakan. Aku tak suka pacaran, aku juga tidak suka dekat dengan lelaki mana pun kalau dia tidak ada niat serius denganku. Untuk apa punya hubungan spesial kalau ujung-ujungnya tak punya komitmen dan kepastian? Sia-sia umurku terbuang begitu saja," ujar Aisyah.

"Ok baiklah, maafkan Abangmu ini adik kecilku yang manis dan cantik," goda Adam bermanja pada Aisyah.

"Baiklah Bang, tidak masalah. Ayo berangkat, nanti aku telat dan Abang tidak suka itu kan?" Aisyah mengajak Adam pergi berangkat dan dia menarik tangan Abangnya seperti seorang anak kecil.

"Baiklah, ayo sayang. Kamu itu masih saja manja dengan Abang," ucap Adam sambil merangkul bahu Aisyah.

"Kalau aku tidak manja pada Abang, lalu aku harus manja dengan siapa? Apa Abang mau lihat aku bermanja dengan lelaki lain, sedangkan kami belum menikah?" tanya Aisyah sambil memanyunkan bibirnya.

"Hahaha... kamu ini, membuat Abang semakin gemas. Sudah besar juga, masih saja bertingkah seperti anak baru masuk SD. Dan awas saja! Jangan coba-coba melakukan seperti yang kamu bilang ya?! Atau lelaki itu akan tamat riwayatnya," goda Adam lagi namun tegas.

"Ya sudah, kalau aku tak dibolehkan manja lagi sama Abang, tidak apa-apa. Aku tahu kalau Abang sudah punya kekasih di luar sana. Jadi Abang akan jaga jarak denganku!" ketus Aisyah merajuk.

"Atau jangan-jangan selama ini Abang tidak pernah punya pacar karena aku ya?" tuduh Aisyah menatap Abang tersayangnya.

"Kamu ini bicara apa sih?! Sedari tadi berbicara terus tanpa henti. Tidak lelah? Atau memang tidak bisa diam?" tanya Adam semakin menggoda Aisyah yang kini benar-benar merajuk dibuatnya.

"Baiklah, Abang minta maaf ya? Kamu itu salah, Abang tak punya pacar bukan karena kamu, tetapi karena hati Abang yang belum siap untuk menerima seorang wanita baru yang hadir dalam hidup Abang, selain adik Abang satu-satunya yang paling Abang sayangi," ungkap Adam menjelaskan.

"Dan juga ini ya, Abang tadi hanya bercanda sayang... Abang senang kamu manja dengan Abang, justru kalau kamu tidak bermanja dengan Abang, rasanya itu seperti hidup Abang ada yang kurang," ucap Adam sambil kembali menatap manik mata sang adik yang sudah mulai berkaca-kaca dan juga mengelus puncak kepala adiknya.

"Jangan pernah ragukan cinta dan sayang Abang ke kamu ya? Kamu adalah harta paling berharga untuk Abang," ucap Adam lagi sambil mengelus lembut kepala Aisyah yang tertutup dengan hijabnya. Kini mereka pun saling berpelukan.

Mereka pun dengan menggunakan mobil bersama Adam. Adam pergi ke kantor dan Aisyah pergi ke kampus diantarnya.

---***---***---