BAB 4 ADA APA INI?
Karin tersentak dari tidur ayam nya dan dengan cepat, ia bangkit dari tempat tidur. Mata nya melihat ke sekeliling kamar nya dan diambilnya pisau buah yang ada di atas meja. Akan dijadikannya pisau buah itu sebagai senjata. Dengan perlahan ia pun berjalan ke luar dari dalam kamar nya.
Dilihatnya, kaca jendela ruang tamu pecah. Namun, siapapun orangnya yang berniat untuk mencelakakan dirinya, tidak dapat masuk karena adanya teralis yang terpasang di jendela tersebut.
Dihubunginya Ryan, satu-satunya orang yang dikenalnya selama ia berada di Jakarta. Walaupun rasanya enggan untuk menghubungi bos nya yang arogan itu. Namun, dengan terpaksa ia harus melakukannya.
“Maaf, pak! Bisakah bapak datang sekarang juga ke rumah ini? Kaca jendela yang ada di ruang tamu pecah, ada orang yang melemparnya dengan batu,” terang Karin, melalui sambungan telepon.
“Ini pasti Cuma akal-akalan kamu saja! Baru juga saya meninggalkan rumah itu,” sahut Ryan dengan ketus. “Saya akan datang ke sana, sesuai dengan jam yang sudah saya janjikan. Saya juga perlu istirahat dahulu. Buat apa kamu mengaku memegang sabuk hitam, ada orang yang melempar kaca jendela saja sudah ketakutan. Kamu bisa mempraktikkan apa yang kamu pelajari dan buktikan kepada saya, kalau kamu memang memang bisa beladiri, seperti katamu dulu,” ejek Ryan. Dan sambungan telepon pun langsung saja dimatikannya.
Dengan menggerutu, Karin pun membersihkan pecahan kaca yang ada di lantai menggunakan sapu dan pengki. “Apa ini adalah ulah pak Ryan? Ia sengaja memerintahkan orang untuk menakuti diriku dan membuatku mempraktikan ilmu beladari yang kubisa, seperti beberapa waktu yang lalu,” gumam Karin.
Setelah selesai membersihkan pecahan kaca, Karin pun masuk ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintu nya. Ia lalu berjalan ke kamar mandi, yang di dalam nya terdapat bak mandi dan pancuran air. Ia pun menyalakan pancuran tersebut dan membersihkan badan nya di bawah air pancuran. Tak berselang lama, ia pun ke luar dari kamar mandi, lalu berpakaian.
Baru saja selesai berdandan dengan make up tipis, didengarnya suara deru mesin mobil yang mendekat ke arah rumah. Karin pun segera berdiri dari duduknya dan membawa tas kerja miliknya. Diputarnya kunci rumah dan ia pun ke luar rumah menuju mobil Ryan, yang berhenti di halaman rumah.
Sejenak ia berdiri di halan dan dilihatnya kaca jendela yang pecah dari luar, ia berharap Ryan mau turun dari mobil dan memeriksa bagian samping rumah nya, untuk memastikan keselamatannya. Biar bagaimanapun juga, ia sekretaris yang harus dijaga keselamatannya.
Tak sabar dengan Karin yang belum juga masuk ke dalam mobil, Ryan pun turun dari dalam mobil, dengan raut wajah tidak suka dan dihampirinya Karin.
“Kenapa kau tidak mau masuk juga ke dalam mobil? Apa kamu pikir dirimu itu tuan putri yang harus diantar masuk dan dibukakan pintu mobil!” bentak Ryan.
Tanpa kata, Karin pun berjalan menuju mobil Ryan, sepertinya akan sia-sia saja memberitahukannya kepada bos nya yang pemarah ini.
Ryan masih berdiri di tempat nya dan dilihatnya apa yang tadi dipandangi Karin. “Hmm, ternyata memang benar, ada orang yang memecah kaca jendela itu. Aku akan memerintahkan anak buahku untuk mengganti kaca yang pecah, secepatnya,” gumam Ryan.
Diambilnya ponsel nya dan dihubunginya salah seorang anak buah nya. “Halo, aku mau kamu datang ke rumah di jalan Jambu dan kamu ganti kaca yang pecah, malam ini juga!” Lalu ditutupnya sambungan telepon tersebut.
Ryan pun berjalan menuju mobil nya, dalam hati nya menggumam. “Siapa kira-kira orang yang sudah melakukannya. Apakah musuh nya? Ataukah musuh Karin secara pribadi?”
Karin menolehkan wajahnya ke belakang, ia pun berhenti berjalan. Dirinya merasa ada seseorang yang mengawasi. Namun, ia tidak melihat ada siapapun juga. Karin melanjutkan langkahnya menuju mobil Ryan.
Karin masuk ke dalam mobil, ia duduk di jok belakang, yang tak lama kemudian disusul oleh Ryan. Dirinya lalu beringsut menjauh, duduk menempel pintu mobil.
Ryan menatap ke arah Karin, yang duduk di sampingnya. “Bagus, kamu sudah membaca apa yang saya perintahkan, kamu akan apa maksud saya pada saat kita bertemu dengan klien saya.”
Ryan pun duduk dengan melipat tangan di depan dadanya dan tidak melihat ke arah Karin lagi, mengerti dengan kode yang diberikan oleh Ryan Karin pun duduk dalam diam.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun berhenti di depan sebuah restoran mewah. Keduanya lalu masuk ke dalam restoran tersebut dan disambut oleh seorang pelayan berseragam yang mengantarkan mereka ke sebuah ruangan privat.
Masuk ke ruangan tersebut, telah ada seorang pria yang duduk di sana. Begitu melihat kedatangan mereka, pria itu bangkit dari duduknya dan menyalami tangan Ryan. Ia menatap sekilas ke arah Karin, lalu mengulurkan tangannya, tetapi tidak menyebutkan namanya.
“Siapa wanita cantik yang bersama denganmu ini, Ryan?” tanya pria itu.
“Dia sekeretarisku yang baru dan semoga saja, ia tidak memiliki mental lemah yang mudah menyerah!” sahut Ryan singkat.
Pria itu tertawa, “Aku kasihan dengannya, karena mendapatkan bos yang pemarah seperti dirimu. Semoga saja, sekretarismu yang baru ini akan memberikan perlawanan yang seimbang dengan sikap pemarahmu, yang sudah melegenda.”
Mereka bertiga lalu duduk, seorang pelayan yang sedari tadi diam saja mengulurkan daftar menu kepada Ryan dan Karin. Begitu selesai mencatat pesanan ketiganya, ia pun berlalu pergi dari sana.
“Apakah kau sudah mendapatkan informasi penting, seperti yang kuinginkan?” tanya Ryan.
“Saya mendapatkan informasi terbaru, kalau almarhum ayah anda memiliki seorang selingkuhan. Hanya saja, saya belum mendapatkan informasi mengenai wanita yang menjadi selingkuhan ayah anda,” sahut pria itu.
Ryan menatap tajam, pria yang identitasnya tidak diketahui oleh Karin, “Cari sampai dapat identitas wanita itu! Aku yakin, kalau menghilangnya ayahku, berkaitan dengan wanita selingkuhannya itu."
Karin dalam hatinya merasa heran, kenapa dirinya diikutsertakan dalam pertemuan ini, karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Ia, ‘kan, bisa beristirahat, setelah menempuh perjalanan jauh.
***
Pagi harinya, Karin sudah siap berangkat memulai pekerjaan barunya, sebagai sekretaris dari Ryan, sesorang bos yang dingin dan bersikap keras dan tegas kepada sekretarisnya.
Ia berjalan kaki menuju ke perusahaan, yang memang letaknya hanya beberapa blok saja dari tempat tinggalnya. Masuk ke dalam perusahaan tersebut, Karin menuju resepsionis dan bertanya di mana ruangan Ryan.
“Kamu sekretaris baru pak Ryan? Yakin, kamu sanggup bekerja dengannya?” Kamu akan seriang lembur dan harus mengikuti apa yang dikatakan olehnya,” kata petugas resepsionis itu, sambil melihat ke arah Karin dari atas ke bawah dengan pandangan yang meremehkannya.
Sebelum Karin sempat membuka suaranya, terdengar suara dengan nada yang dingin dan tegas berkata, “Siapa kamu? berani menakut-nakuti sekretaris saya? Apakah kamu mau saya pecat? Silakan saja teruskan kelakuanmu yang seperti itu.”
Petugas resepsionis itu terlihat menjadi gugup dan takut, “Maaf Pak! Saya tidak akan mengulanginya kembali.”
“Bagus! Hanya saya saja yang berhak menegur ataupun memarahi sekretarisku!” kata Ryan.
“Ini, bawakan tas saya!” perintah Ryan kepada Karin, sambil menyodorkan tas kerjanya, yang dengan sigap disambut oleh Karin. Meskipun dalam hatinya, ia merasa kesal kepada bos nya ini.
Mereka masuk ke dalam lift yang khusus untuk piimpinan, Karin berdiri jauh dari Ryan dan mendapatkan lirikan dari pria itu. Dalam waktu yang singkat, keduanya pun sampai di sebuah ruangan yang besar dan penataan yang bernuansa maskulin.
“Itu meja kerjamu, semua petunjuk pekerjaan yang harus kau lakukan ada di dalam komputer tersebut. Aku akan menghubungimu melalui panggilan telepon dan begitupun sebaliknya dengan kamu.”
Ryan lalu masuk ke dalam ruangannya dan meninggalkan Karin sendiri. Karin pun mempelajari catatan yang ada di atas meja kerjanya dan mulai mempelajari apa yang harus dilakukannya.
Karin yag larut dengan pekerjaan barunya, tidak menyadari kalau Ryan berdiri tepat di hadapannya dan dengan serius memperhatikan dirinya. Hingga suara batuk kecil dari pria itu menyadarkannya.
Karin mendongak dari layar komputer yang ada di hadapannya dan matanya bertemu, dengan tatapan tajam Ryan, “Maaf, saya tidak menyadari kalau bapak berada di sini, bukannya kata bapak tadi, akan menghubungi saya melalui telepon, kalau ada perlu?” tanya Karin, sambil mengernyitkan keningnya.
“Kamu berani mengkritik saya, Karin! sebagai sekretaris pribadi saya, kamu harus siap dan bisa menerima perubahan mendadak pada saat bekerja dengan saya!”
Karin menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata Ryan, yang menatapnya galak. “Maafkan atas kelancangan saya, pak!”
“Kamu dimaafkan, sekarang kamu harus ikut dengan saya ke ruangan pertemuan, sebagai pegawai baru saya maafkan kamu, tidak mengetahui jadwal pertemuan pada hari ini, meskipun seharusnya kamu melihat jadwal kerja saya” sahut Ryan.
Karin pun mematikan komputernya, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menyusul Ryan, yang sudah berjalan duluan, tidak menunggu dirinya.
Dengan napas yang sedikit tersengal, Karin pun akhirnya mensejajari Langkah kaki Ryan, “Pak, jalannya pelankan sedikit dong! saya kesulitan menyamai langkah Bapak.”
Secara mendadak, Ryan menghentikan langkahnya hingga tanpa sengaja Karin menginjak kaki Ryan.
Dengan mata yang melotot, Ryan pun berkata, “Kamu yang salah, kenapa punya langkah kaki kecil, bekerja dengan saya jangan mengeluh
dan kamu sudah tahu sendiri, kalau sejak awal saya menekankan hal itu!” tegas Ryan dengan galak.
“Maaf pak! Saya memang bersalah, baru bekerja sudah banyak mengeluh,” sahut Karin.
Tanpa banyak kata, Ryan terus berjalan, hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu dengan tulisan meeting room. Keduanya pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu, ada beberapa orang pegawai senior yang melihat ke arah Karin dengan seksama. mereka seakan mencari tahu tentang kesamaan dirinya dengan seseorang yang mereka kenal.
Karin menjadi risih, karena merasa terus diperhatikan. Ia pun mencari tahu, siapakah orang yang terus memperhatikan dirinya. Dan tatapan matanya bertemu dengan mata seorang pria, yang melihat dari penampilannya merupakan senior dari perusahaan.
Ia pun dengan cepat mengalihkan pandangannya dari pegawai senior itu, yang melihat ke arahnya dengan tatapan tidak suka dan seakan mencemooh dirinya. Ia menyibukkan dirinya, dengan mempelajari secara kilat materi rapat yang dikirimkan oleh Ryan melalui tablet miliknya.
Beberapa saat kemudian, Ryan memulai rapat tersebut dan memaparkan beberapa kebijakan barunya, terkait dengan rencana launching produk baru mereka. Rapat tersebut berlangsung selama beberapa jam, dengan diwarnai interupsi dan ketidakpuasan akan kebijakan yang diambil oleh Ryan. Namun, Ryan tidak goyah dengan beberapa keberatan yang diajukan, oleh pegawai senior.
Sekarang sudah jaman canggih dam kita sendiri bergerak di bidang tekhnologi, kalau ingin maju dan selalu terdepan, kita sendiri yang terlebih dahulu harus menguasai tekhnologi tersebut, oleh karena itu, saya menekankan kepada pegawai senior untuk mengikuti pelatihan pengembangan diri. Kita menawarkan kepada pegawai senior, yang merasa tidak sanggup untuk mengikuti peraturan untuk mengajukan pengunduran diri.”
Semuanya pun terdiam, dengan ketegasan yang diperlihatkan oleh Ryan. Hingga pada akhirnya pertemuan itu pun diakhiri.
Ketika Karin akan ke luar dari ruang pertemuan tersebut, tangannya ditarik dengan kasar oleh pegawai senior yang tadi terus saja memperhatikan dirinya.
“Mengapa kau datang ke perusahaan ini? Apakah kau hendak menghancurkan keluarga ini? seperti apa yang pernah dilakukan oleh ibumu. Jangan kau sangkal, kalau dirimu adalah putri dari Risa!” kata pria itu dengan kemarahan yang tertahan.
