4. Hari Sial Benjamin
Benjamin berjalan menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Dia terpaksa menggunakan tangga darurat karena lift sedang dalam perbaikan. Ketika akan memutar kenop pintu. Pintu itu mendadak terbuka dan alhasil jidatnya terbentur pintu.
"Auuww!" teriak Ben sambil memegangi jidatnya. Irish yang tak tahu jika ada orang di balik pintu pun ikut terkejut.
"Maaf ... maaf ... aku tidak sengaja!" ucapnya sambil membungkuk. Ketika mata itu beradu pandang lagi ....
"Kau lagi ... kau lagi! Kenapa setiap bertemu denganmu, aku selalu sial!" Ben menatap garang ke arah gadis itu.
"Maaf, aku tidak ada waktu meladeni hal yang tidak penting seperti ini." Irish cuek dan masa bodoh.
"Tidak penting katamu!" Ben menunjuk jidatnya yang merah.
"Maaf, aku sedang buru-buru dan aku juga sudah malas melihat mukamu!" Irish cuek dan berlalu pergi meninggalkan Ben menuruni tangga tanpa memperdulikan teriakan pemuda itu. Kemudian dia berhenti sambil berpikir.
Kenapa cowok itu ada di perusahaan ini? Ah, mungkin dia hanya kurir yang mengantarkan barang,' pikirnya dalam hati.
Ben masing berdiri di depan pintu darurat sambil diam dan berpikir
Kenapa gadis sialan itu ada di perusahaan ini? bertanya-tanya dalam hati.
"Tuan muda," teriak sekretarisnya membuyarkan lamunan Ben. "Kenapa dengan jidat Anda, Tuan muda?" tanya sekretaris itu menunjuk jidat Ben.
"Ah, ini hanya kecelakaan kecil." Ben memegang jidatnya.
"Oh, kalau begitu mari Saya antar Tuan Muda ke ruang kantor."
❣❣❣
Ayana celingak-celingak mencari Irish, tapi yang orang dia cari tidak ada di tempat.
"Hey ... Maria, apa kau lihat Irish?" tanya Ayana. Maria mengangkat bahunya menandakan dia tidak tahu.
"Hey Ryan, apakah kau melihat Irish?" tanya Ayana. Ryan menggelengkan kepala.
"Ke mana dia? Padahal sudah hampir masuk jam kantor. Ini orang kenapa suka sekali menghilang," bertanya pada dirinya sendiri. Meraih ponselnya dan mengetik sesuatu.
"Halo," suara dari seberang sana.
"Irish, kau di mana? Sudah hampir jam kantor ini, kenapa kau punya hobi menghilang begitu saja!" teriak Ayana.
"Aku sedang berada di lobi bawah. Kenapa kau ini? Merajuk kah? Baru ditinggal sebentar saja sudah kelimpungan seperti itu," canda Irish.
"Hey, aku ini bukan merajuk. Cepatlah kau naik sebelum kena tegur lagi!" balas Ayana.
"Iya ... iya ... sebentar lagi aku na--" telepon langsung diputus oleh Ayana. "Kenapa ini orang seenaknya saja langsung main mutusin sambungan telepon!" beonya.
Semua pegawai berkumpul ketika sekretaris Adrima memperkenalkan Benjamin van De Haan. Beberapa pegawai wanita mulai berbisik-bisik membicarakan ketampanan Benjamin.
Ketika Benjamin memperkenalkan diri, matanya langsung terfokus pada seorang gadis yang baru datang membawa tumpukkan map menuju tempat mesin fotokopi. Merasa sangat familiar dengan gadis itu sehingga mengingatkan kejadian tadi pagi di tangga darurat. Irish terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tidak memperhatikan yang sedang terjadi di ruangan itu.
"Aku ketinggalan apa nih, Ay? Aku dengar tadi di lobi bawah banyak yang membicarakan CEO baru," tanyanya pada Ayana.
"Pak Adrima baru saja memperkenalkan CEO baru." Ayana menjelaskan sambil menunjuk ruang Dirut.
"Benarkah?" Irish menatap ke ruang Dirut. "Asal jangan galak saja orangnya," imbuh Irish.
"Dia benar-benar tampan." Ayana tersenyum menepuk pundak Irish.
"Hey, kau ini kenapa, Ay? Seperti apa sih dia, kenapa aku jadi penasaran?" celoteh Irish disambut tawa mereka berdua.
"Berharap aku punya kekasih seperti dia!" Ayana memasang muka imutnya.
"Bagaimana dengan Hendrick? Apa kau mau memecat dia?" tanya Irish.
"Ah, aku lupa kalau aku sudah punya kekasih!" Ayana menepuk jidatnya sendiri.
"Hubungan kalian masih baik-baik saja kan?" tanya Irish lagi.
"Entahlah ...." Ayana mengangkat bahunya.
"Irish, file yang tadi kau fotokopi tolong serahkan pada pak Ben dan mintalah tanda tangannya. Kau kan tadi belum berkenalan dengan CEO baru kita." Ryan menyerahkan beberapa map pada Irish.
"Baiklah ...." Irish menerima uluran map dari Ryan dan berjalan menuju ruang Dirut.
Tokk ... Tokk ... Tokk ....
"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan yang mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk.
"Selamat siang, Pak," sapa Irish ramah. Bersamaan dengan kalimat yang diucapkan Irish selesai, kursi itu memutar dan tampaklah seorang pemuda berhidung mancung dan berbibir indah dibalut dengan jas berwarna hitam dan rambut sedikit disisir ke belakang memperlihatkan jidatnya. Seketika Irish langsung terperanjak kaget menatapnya. Pemuda itu tersenyum smirk.
"Kau!" Irish terlihat sangat kaget dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Ada apa? Kenapa kau kaget melihatku?" tanya pemuda itu. "Apa aku terlihat seperti hantu?" imbuhnya memegang keningnya yang memerah.
Irish tidak mau ambil pusing masalah di tangga darurat tadi, dia pun langsung ke pokok intinya.
"Tolong tanda tangani beberapa file ini, Pak!" Irish berusaha tenang.
Sial sekali aku ini, ternyata pemuda ini anaknya pak Dirut!' batin Irish sedikit menggigit bibir bawahnya.
Benjamin berdiri membetulkan kancing jasnya dan berjalan mendekati Irish.
"Irish van Willem!" ujarnya memegang ID perusahaan yang terpasang di baju Irish. "Jadi kau bekerja di perusahaan ini?" imbuhnya berjalan ke belakang tubuh gadis itu dan memegang pundaknya. Irish kaget dan berusaha tetap tenang.
"Sepertinya kau harus menarik kata-katamu tadi pagi yang mengatakan kau malas melihat mukaku dan jangan pernah muncul di depanku lagi karena apa?" Ben terdiam. "Karena setiap hari kita akan bertemu terus di kantor ini!" bisik Ben di telinga Irish. Gadis itu sedikit merinding. "Ah, satu lagi. Soal jidatku ini dan kejadian-kejadian yang lain, seperti menginjak kakiku, menumpahkan coklat di bajuku dan mengusirku dari taksi-" Ben terdiam sebentar sambil menatap Irish dengan tajam, "Aku tidak akan mempermasalahkannya, tapi dengan satu syarat. Sebagai gantinya kau harus menuruti semua perintahku!" Ben tersenyum nakal.
"Apa kau mengancam ku? Bagaimana kalau aku tidak mau menurutinya, apa kau akan memecat ku?" akhirnya Irish buka suara menanggapi Ben.
"Ah ... begitu kah cara bawahan bicara pada atasannya? Aku tidak akan memecat mu karena Ayahku yang merekrut mu! Tapi jika kau tidak menuruti perintahku, aku akan membuatmu tidak betah kerja di sini!" ancam Ben sambil menanda tangani semua berkas. Ben menutup map itu dan memberikannya pada Irish.
"Terima kasih!" ucap Irish cuek sambil membungkukkan badan dan kemudian membalikkan badannya berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan.
"Hey! Siapa yang menyuruhmu untuk keluar dari ruangan ini!"
Irish menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Ben.
"Aku belum menyuruhmu untuk keluar dari ruangan ini!" Ben berjalan mendekati Irish, dihirupnya parfum yang melekat di tubuh Irish.
"Aku suka bau parfum mu! Itu membuatku tergoda untuk memelukmu!" bisik Ben di telinga Irish.
Irish tampak risih dan sedikit merinding karena bisikan Ben di telinganya, akan tetapi Irish mencoba untuk tenang.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" ucap Irish kesal.
"Hmm ... tidak ada, kau boleh keluar dan kembali bekerja!"
Irish berjalan menuju meja kerjanya dengan muka kesal, hal ini membuat Ayana heran melihat teman kantornya itu.
"Kau kenapa?" tanya Ayana heran melihat Irish tampak kesal setelah keluar dari ruangan dirut.
"Tidak apa-apa!" jawab Irish dengan senyum yang terlihat seperti dipaksa.
"Tapi kenapa pak Ben melihatmu terus?" tanya Ay sambil sedikit menurunkan kepalanya. Irish langsung melirik ke arah ruang Dirut dan melihat pemuda itu tersenyum.
"Dasar cowok kurang ajar!" Irish menjatuhkan kepalanya ke meja.
"Sebenarnya ada apa di antara kalian?" Ayana terlihat penasaran.
"Jangan tanya sekarang Ay, nanti akan aku ceritakan!" Irish menopang dagu. Ayana pun hanya mengangkat bahunya dan mereka kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
