Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kebencian Angger kepada Bunga

Plak-

Suara tamparan itu terdengar begitu nyaring di telinga, hingga memenuhi seantero ruang tamu kediaman Jaya Diningrat. Tuan Anggoro sangat murka setelah mendengar pengakuan dari asisten rumah tangganya yang bernama Bi Zaenab. Wanita yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdi pada keluarganya.

Pria paruh baya itu tidak bisa lagi menahan amarahnya, ketika mendengar berita buruk tentang sang putra. Keturunan yang selalu dibanggakan, dan dididik dengan baik sejak kecil itu ternyata telah mengecewakan dirinya.

Sebagia orang tua, bagaimana dia bisa ia lalai. Sehingga tidak mengetahui jika sang putra telah berbuat nista. Anggoro Jaya Diningrat merasa kecolongan, saat Bi Zaenab mengatakan bahwa sang putra telah menghamili seorang gadis belia. Dialah Bunga Lestari putri kandung dari Bi Zaenab sendiri.

Jika sudah begini siapa yang harus disalahkan. Meratapi penyesalan hanya akan berakhir sia-sia, karena waktu juga tidak bisa diputar kembali untuk bisa memperbaiki keadaan semula. Sehingga yang bisa Tuan Anggoro lakukan sekarang adalah memperbaiki keadaan yang ada, agar tidak semakin merusak tatanan yang sudah digariskan.

Ruang tamu berdesain elegant dengan sentuhan klasik itu masih tampak mencekam. Semua orang yang berada di sana tidak ada yang berani sedikitpun mengangkat wajahnya. Termasuk juga sang tersangka utama yang kini berlutut di depan Ayahnya setelah mendapatkan sebuah tamparan keras tadi. Sebelum suara Tuan Anggoro berhasil memecahkan keheningan yang ada.

"Angger jadilah pria yang bertanggung jawab seperti yang selalu Ayah ajarkan kepadamu. Kau harus menikahi Bunga secepatnya!" tegas Tuan Anggoro tak terbantah lagi.

Pemuda bernama Angger itu sontak mengangkat wajah melihat ke arah sang Ayah, seolah ingin mengajukan protes di sana.

"Tapi Yah, bagaimana dengan pertunangan Angger dengan Laura? Angger tidak bisa membatalkannya dengan begitu saja," tukas Angger yang membuat Tuan Anggoro semakin murka.

"Jadi kau lebih memilih untuk menjadi seorang pengecut dengan lari dari tanggung jawab, begitu Angger?!" hardik Tuan Anggoro yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya.

"Maafkan Angger, Yah. Apa yang terjadi antara Bunga dan Angger adalah sebuah kesalahan yang tidak pernah Angger sengaja. Angger khilaf ya. Sekali lagi maafkan Angger, Yah!" Suara yang biasa terdengar berat itu telah berubah menjadi parau.

Menyesal tentu saja, namun jika harus menikahi Bunga, sungguh Angger tidak bisa menerimanya. Karena cintanya sudah berlabu kepada seorang model ternama yang bernama Laura Isabella, perempuan cantik yang sudah dua tahun terakhir ini menjadi kekasihnya. Dan baru semalam telah resmi menjadi tunangannya.

Plak-

Satu tamparan keras kembali Angger dapatkan dari pria yang dia panggil Ayah, tanpa perlawanan karena pemuda itu tahu jika dirinya telah salah.

"Ayah!" pekik Nirmala saat melihat suaminya menjatuhkan tangan lagi kepada putranya.

Wanita paruh baya itu tampak tidak terima, ketika melihat putranya diperlakukan kasar oleh sang suami. "Ayah tenang dulu, Yah. Bunda tahu putra kita salah, dan Bunda juga tidak akan membelanya. Tapi menyelesaikan masalah dengan kekerasan juga tidak dibenarkan!" bujuk Nyonya Jaya Diningrat yang berusaha untuk melunakkan kemarahan suaminya.

"Tapi putramu ini sudah sangat keterlaluan, Bunda. Dia sudah merusak kehormatan seorang gadis hingga hamil. Tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Apa kita pernah mengajarkannya menjadi pria bajingan dan pengecut seperti itu?!"

Suasana ruangan tersebut menjadi semakin mencekam. Bunga dan Ibunya yang masih duduk bersimpuh di atas lantai semakin menundukkan kepala dan meremas tangan mereka sendiri karena ketakutan. Terutama Bunga yang semakin tidak bisa membendung air mata, Karena dialah korbannya di sini.

Air mata semakin bercucuran hingga membasahi seluruh wajah gadis cantik nan lugu itu. Sebelum dia merasakan tangan hangat seseorang terulur kepadanya. Bi Zaenab berusaha untuk memberikan kekuatan kepada sang putri. Ibu dan anak itu saling berpelukan erat seakan saling menguatkan satu sama lain.

Bagaimanapun keadaannya, Bi Zaenab akan selalu berada di garda terdepan untuk melindungi putrinya. Wanita itu akan terus berjuang hingga sang putri mendapatkan keadilan untuknya. Dia adalah seorang Ibu yang ingin memperjuangkan nasib dan masa depan putrinya.

"Sekali lagi maaf, Angger khilaf, Yah. Malam itu Angger sedang di bawah pengaruh obat, hingga Angger tidak sadar dengan apa yang sudah Angger lakukan. Angger tidak pernah sekalipun ingin berbuat buruk kepada putri Bi Zaenab. Tolong mengerti keadaan Angger saat itu."

Pembelaan diri yang diberikan Angger tadi, semakin menyulutkan api amarah di dalam diri Tuan Anggoro.

"Khilaf kau bilang? Angger Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pria pengecut yang hanya bisa lari dari tanggung jawab. Kau sudah merusak masa depan seorang gadis dan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf saja."

Anggoro Jaya Diningrat benar-benar kecewa dengan sikap putranya yang terlalu pengecut.

"Suka ataupun tidak, kau tetap harus menikahi Bunga sebagai bentuk tanggung jawabmu. Untuk urusan Laura dan keluarganya, biar Ayah dan Bunda yang akan mengurusnya!" tegas Tuan Anggoro tanpa bisa dibantah lagi.

Melihat suasana semakin tidak terkendali membuat Nyonya Nirmala berinisiatif untuk mendekati putranya. Wanita ayu nan anggun itu berniat ingin berbicara dengan sang putra, tetapi tidak dengan kekerasan seperti suaminya tadi.

"Angger dengarkan Bunda, Nak. Sengaja ataupun tidak saat melakukannya. Kau sudah merusak masa depan Bunga sampai menyebabkan dia mengandung anakmu. Maka dari itu kau tidak bisa mengelak dari tanggung jawab itu, karena bagaimanapun juga anak yang ada di dalam kandungan Bunga sekarang adalah darah dagingmu, cucu Ayah dan Bunda, biarpun kehadiarannya dengan cara yang tidak seharusnya.

Wanita itu mengatakannya dengan begitu lembut. Kemudian menyentuh pipi sang putra dengan kedua telapak tangan sebelum melanjutkan ucapannya. "Putra Bunda adalah pemuda yang baik, dia bukan pengecut yang akan lari dari tanggung jawab."

Kelembutan dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh sang Bunda, membuat hati Angger yang awalnya keras akhirnya tersentuh. Dia tidak mungkin menolak wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

Tatapan frustrasi terlihat jelas dari raut wajah Angger sekarang. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa jika sang Bunda sudah bersuara, wanita pertama yang akan dia cintai sampai mati.

"Lalu bagaimana dengan Laura, Bunda? Angger sangat mencintainya." Pertanyaan dengan nada penuh frustrasi itu terdengar begitu memilukan di telinga.

Wajah cantik sang tunangan tiba-tiba muncul di pelupuk mata, hingga membuat Angger semakin merasa bersalah. Sungguh Angger tidak akan sanggup untuk melihat kesedihan di wajah Laura, saat gadis cantik itu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Jika dirinya telah menghamili anak pembantunya sendiri.

"Sudah Ayah bilang, serahkan masalah ini kepada Ayah dan Bunda karena tugasmu hanya menikahi Bunga. Jika kau masih ingin menjadi putra kami!" tegas Anggoro Jaya Diningrat hingga membuat Angger memekik tak percaya.

Angger tidak habis pikir, mengapa orang tuanya lebih membela gadis kampung yang bahkan baru beberapa bulan mereka kenal, dibanding dengan dirinya yang merupakan putra kandung mereka sendiri. Hal tersebut tentu saja membuat Angger semakin murka dan membenci Bunga. Namun hal tersebut hanya bisa Angger simpan dalam hati tanpa bisa mengungkapkannya.

Angger merasa Bunga adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bunga adalah kutukan yang membuat kehidupan Angger yang awalnya bahagia menjadi sebuah bencana. Tanpa mau melihat dari sisi Bunga yang sangat dirugikan karena perbuatannya. Kebencian Angger terhadap Bunga membuatnya tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel