Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Harapan

"Kita mau kemana, A?"

"Diamlah! Aku mau bawa kamu ke satu tempat!" mendengar jawaban Raja, Cahaya mengkerut takut. Apa yang akan Raja lakukan padanya?

Bukan yang aneh-aneh kan?

Cahaya menggeser duduk lebih dekat ke pintu, Raja langsung menoleh, "Kenapa takut?"

"Kamu kenapa sih, A?"

"Kamu yang kenapa, Cahaya?" suara Raja naik satu oktaf dari biasanya, dan Cahaya merasa tidak nyaman mendengarnya. Raja yang selalu bicara lembut padanya, sekarang bicara dengan suara tinggi.

Hiks! Kok, rasanya sakit, ya?

Cahaya semakin merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, merasa tidak nyaman dengan sikap Raja.

"Aku-aku... Baik, A!" Cahaya mencoba bersikap tenang, menjawab pertanyaan Raja yang sudah dia tebak pertanyaan sebenarnya.

Raja menepikan Mobil. Merubah posisi duduknya menghadap Cahaya dengan tatapan mata yang tajam menusuk, membuat Cahaya bergidik melihatnya.

"Kamu bohong kan padaku?" suaranya pelan, tapi tekanan suara itu membuat nyali Cahaya ciut.

"Bo-bohong apa, A? Masa baru ketemu udah bohongin Aa?"

"Nah itu! Kamu tau. Apa maksudnya kamu bohong sama aku, padahal kita baru ketemu lagi setelah tiga tahun berpisah? Kenapa, Ya? Apa aku sebegitu buruk di mata kamu, hingga kamu merasa aku pantas untuk dibohongi?" cecar Raja kesal, perasaan cinta yang tak pernah berubah sedikitpun pada gadis di sebelahnya itu, membuatnya merasa tidak dihargai saat Cahaya berkata bohong.

Cahaya memejamkan mata saat mendengar Raja bicara seperti itu, hatinya sakit mendengar nada kekecewaan dari suara Raja.

"Apa belum cukup kamu buat aku menunggu, Ya? Belum puas kamu membuat hatiku terluka?"

Terluka?

Menunggu?

Benarkah?

Ya, Allah... Apa ini?

"Jawab, Ya? Kamu tidak menikahkan sama Kim? Kalian sudah berakhir kan? Kamu masih sendiri? Benerkan itu, Cahaya Kamila?!"

Perlahan air mata Cahaya turun, entah untuk alasan apa dia pun tak mengerti. Untuk kebohongan yang terkuak, atau karena dia yang tidak bisa mewujudkan cinta, dengan orang yang Raja sebutkan tadi.

Nyeri. Itu yang pasti dirasakan. Hatinya bagai diremas lagi.

Raja meluruskan badannya kembali, bersandar dengan prustasi. Dengan napas sedikit memburu, mengusap wajahnya pelan. Cahaya hanya bisa diam, menahan isak yang semakin membuat dadanya semakin sesak.

"Kamu tau, Ya? Tiga tahun aku mencoba melupakanmu. Bahkan saat aku melihatmu tadi dalam keadaan baik-baik saja, aku pikir kamu sudah bahagia dengan dia. Tapi kenapa kamu malah sengaja membohongiku? Kamu tega. Aku tidak mengerti kenapa kamu melakukan itu. Aku masih mencintaimu, Ya. Sangat merindukanmu!"

Cahaya bergeming, percuma dia berbicara dengan kondisi Raja tengah kecewa padanya, dan bukankah dia memang selalu membuat Raja kecewa?

"Kamu lihatkan, tadi photo siapa yang ada di layar ponsel aku? Photo kamu, Ya. Photo kamu waktu di Seoul. Apa kamu tidak mengerti apa artinya?"

"Maaf!" Hanya kata itu yang bisa Cahaya katakan, di sela isakan yang dia redam sekuatnya.

"Maaf? Untuk apa?" Raja menoleh, rasa tak tega melihat Cahaya menangis, mengikis perlahan rasa kecewanya tadi atas kebohongan Cahaya.

"Maaf, karena aku sudah berbohong. Ya, aku belum menikah. Aku dan Kim sudah berakhir sejak lama. Kami sempat berniat menikah waktu itu. Tapi entah apa sebabnya, Ayah Kim menolakku. Sampai aku kembali ke Indonesia, Kim tidak pernah menemuiku lagi." Cahaya menjelaskan, Raja menggeleng mendengar perkataan Cahaya.

"Lalu kenapa kamu bohong?"

"Aku malu sama kamu, A. Malu!" pekik Cahaya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menggeleng berkali-kali menegaskan perkataannya benar adanya.

Raja menghembuskan napas pelan, ternyata sangkaannya salah besar. Cahaya... Tidak bahagia bersama Kim. Waktunya terbuang percuma. Waktu mereka. Permainan takdir membawanya di titik ini sekarang. Tapi bukankah itu bagus? Dia bisa memiliki Cahaya sekarang.

Bukankah itu juga janji yang dia berikan pada Cahaya dulu? Saat gadis tak menemukan jalan kembali, dan mereka bertemu lagi dengan dia yang masih sendiri, berarti mereka... Jodoh.

Hati Raja mulai ditumbuhi kuncup bunga, harapan, dan cita-citanya seakan terlihat nyata. Dia akan menikahi Cahaya. Harus.

Raja mendekat, menarik lembut tangan Cahaya yang menutupi wajahnya, "Aku sayang kamu, Ya. Rasa itu masih sama dengan yang dulu. Tak berubah sedikitpun. Bahkan kini setelah tau kamu masih sendiri, rasa itu semakin besar. Semakin dalam. Bukankah ini satu pertanda kalau kita memang tercipta untuk satu sama lain? Bukankah aku pernah berjanji, kalau aku akan membawamu pulang, Ya? Kau tidak melupakan itu kan?"

Raja menatap wajah Cahaya yang basah oleh air mata, mengusap pelan pipinya yang masih diluncuri air bening.

"Aku hanya merasa tidak pantas untukmu, A. Kamu layak bahagia, dengan orang yang tulus mencintaimu. Bukan aku yang selalu menyakiti dan memberi harapan yang tak pasti," elak Cahaya masih dengan pemikirannya, kalau dia bukan yang terbaik untuk Raja.

Raja menatap Cahaya dengan tatapan kecewa, entah bagaimana menyakinkan gadis di depannya kalau bahagianya adalah dia.

"Aku ingin bahagia denganmu, Ya. Bersamamu. Bisakah kita mewujudkannya sekarang? Bisakah aku menjadi satu-satunya di hatimu sekarang?"

Cahaya mengalihkan pandangan ke luar jendela, menimbang langkah apa yang harus diambil sekarang ini, Raja kembali mengharapkannya. Inikah saatnya dia menerima cinta Raja?

Membalas semua rasa sakit yang pernah diberikan, dengan harapan indah pada lelaki itu?

"Kenapa, A?"

"Apa?"

"Kenapa kamu begitu mencintaiku?" kekehan Raja terdengar, membuat Cahaya kembali melihat ke arahnya.

"Tanyakan itu pada Sang Pemilik Hati, Ya. Jangan padaku. Karena aku pun tak tau kenapa bisa mencintaimu seperti ini?"

Sesaat keduanya terdiam. Hanya deru suara motor dan kendaraan yang lewat terdengar. Sampai akhirnya kembali Raja bersuara.

"Kembali padaku, Ya! Akan aku kenalkan kamu pada keluarga besarku secepatnya, akan ku tunjukkan pada mereka. Inilah seseorang yang membuat aku menunggu. Inilah seseorang yang membuat aku menolak wanita lain. Inilah seseorang yang sangat aku cinta. Kamu Cahaya-ku!" Raja mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Cahaya, netranya memancarkan pengharapan yang sangat besar. Kekasihnya, kembali ke pelukan.

"A... !" Cahaya tak dapat berkata-kata, tenggorokan ya tercekat oleh haru yang menyeruak. Merasa bangga karena dicintai Sebegitu dalam oleh Raja. Lelaki tampan dengan sejuta pesona, tapi dengan tanpa syarat bertekuk lutut mencintainya begitu dalam.

"Katakan IYA, Ya! Buat harapanku menjadi nyata."

Kaca-kaca yang melapisi mata Cahaya luruh bersama kepalanya yang bergerak kebawah, menjawab harapan Raja yang haus akan balasan cintanya.

Cahaya yakin, dia memang untuk Raja.

Hati Raja yang tadi berdebar resah menunggu jawaban Cahaya, membuncah bahagia. Gerakan pelan tapi pasti kepala gadis yang kini ada di depannya, memberikan angin segar pada harapan cintanya.

Akhirnya, setelah tiga tahun lamanya, setelah kebohongan yang dibuat gadis itu yang membuatnya kehilangan harapan, bahagia itu berbaik hati mendekap.

"Katakan, Sayang?! Katakan dengan lantang kalau kamu mau menjadi milikku? Satu-satunya milikku?" suara Raja bergetar penuh haru, menunggu suara itu mengatakan kalau dia mau.

"Iya, A... Aku mau!"

Lepas sudah semua ketakutan Raja, hatinya bersorak riuh. Cintanya telah kembali. Cahaya-nya kembali!

Raja memeluk Cahaya erat, mendekap tubuh itu dengan bahagia yang tak dapat dia ucap. Senyuman lebar menghiasi wajah tampannya.

"Terima kasih, Sayang. Terima kasih! Segera, segera aku akan meminta keluargaku melamarmu, meresmikan hubungan kita. Kamu mau kan?" ujar Raja seraya melabuhkan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Cahaya, mencurahkan rasa yang semenjak dulu tak berkurang kadarnya, walau si Jelita pernah menorehkan luka.

Cahaya menegang dalam pelukan Raja mendengar perkataannya, mendorong pelan dada Raja mengurai pelukan.

"Kenapa secepat itu, A?"

"Kenapa? Buat mimpiku jadi nyata, Ya!" Raja kembali menghiba, mengharap Cahaya mau menerima.

"Aku... Perlu waktu, A." Raja mendesah kecewa, setelah tadi dia sangat bahagia, kembali Cahaya mengulur kesenangan jiwanya.

Raja mengangguk, mencoba mengerti apa yang menjadi pertimbangan Cahaya. Tampak kecewa. Tapi dia tidak bisa memaksa. Cahaya benar, mereka butuh waktu memahami rasa, benarkah itu cinta? Bukan sekedar obsesi untuk memiliki semata.

"Baiklah. Aku coba memahami kamu, Sayang. Selama apa kamu meminta waktu, aku akan memberikannya," Raja membelai rambut Cahaya menatap dalam mata yang sudah menjeratnya begitu kuat, "Sekarang katakan padaku, rumah kamu dimana?"

"Aku ngekost, A."

"Kost? Baiklah, aku antar. Atau kamu mau pergi ke luar dulu? Makan atau yang lainnya?"

"Tidak, A. Aku capek pengen pulang." Raja mengangguk, menghidupkan kembali mesin mobilnya, lalu mulai menjalankannya pelan, "Tunjukkan jalannya padaku."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel