Bab.6. Tertawan Di Mansion Hanson
Suara burung liar di pagi hari membangunkan Starla. Dia terlelap karena kelelahan melayani napsu biadab pria mafia yang masih berbaring memejamkan mata tanpa busana di bawah selimut yang sama dengannya.
Bias sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kamar membuat Starla melihat wajah Brocklyn secara jelas. Cambang subur berwarna coklat gelap menghiasi fitur tulang rahang tegas pria itu. Tulang pipinya menonjol dipadu tulang hidung yang kokoh begitu mancung membuat Brocklyn terlihat sempurna.
Starla teringat warna iris mata pria itu biru kehijauan bak permata Amazonite. Dia menghela napas perlahan lalu beringsut bangkit dari ranjang yang berantakan bagaikan kapal dihantam topan badai di lautan.
"Ouch!" desis Starla saat berusaha melangkahkan kakinya. Gesekan paha membuat dia merasa perih di bagian area intimnya.
Dia duduk di kloset lalu berkemih sebelum memutuskan mandi air dingin di shower box. Bekas sentuhan sang mafia semalam di tubuhnya masih terekam jelas di benak Starla. Dia berusaha tidak terlalu memikirkannya dan hanya ingin pulang ke rumah.
Tiba-tiba sepasang lengan kokoh berbulu gelap menyergap tubuh polosnya yang basah di bawah shower menyala.
Suara Bass khas perokok berat yang agak serak terdengar dari balik punggung Starla, "Kau pagi benar meninggalkanku, Darling. Mungkin kita bisa melakukan satu putaran lagi di sini?"
"Tidak. Berhenti menyentuhku sesukamu, Tuan. Kau bukan suamiku atau pun kekasihku!" teriak Starla lantang hingga bergema di dalam kamar mandi.
Brocklyn membalik badan basah Starla, dia menatap sepasang mata biru cemerlang itu dan menjawab, "Sebentar lagi kita akan resmi menjadi suami istri. Namun, aku tak sesabar itu menunggu tanpa bercinta denganmu, Starla!"
Wanita itu terkejut. "Apa?! Kau sinting! Aku masih berstatus sebagai istri Joe–"
"Bukankah semalam sudah kubilang, Joe akan segera menceraikanmu karena kami telah sepakat dengan mahar lima kilo Angel Dust untuk ditukar sebuah perceraian. Dan ... jangan lupa selama menunggu berkas itu beres, kau tak boleh pergi dari mansionku, Starla!" potong Brocklyn tegas. Dia memagut bibir Starla yang setengah terbuka karena keterkejutannya.
Ciuman Brocklyn buas dan menuntut penyerahan diri Starla dengan total. Awalnya starla memukul-mukul dada pria itu dengan kepalan tangannya. Namun, dia berhasil membuat lutut wanita itu goyah karena terseret oleh hasrat liarnya. Jemari tangan Brocklyn menemukan lipatan lembut yang telah memuaskannya sepanjang malam hingga beberapa jam lalu. Dia menyelipkan telunjuk dan jari tengah ke dalam inti tubuh Starla.
"Aarhh!" Suara terkesiap itu meluncur dari mulut Starla, dia tak mampu menahan pikirannya tetap tenang. Kewarasannya dilucuti perlahan-lahan oleh Brocklyn meskipun hati kecilnya memberontak. "Stop ... stop it, please!" desah Starla sembari bergelanyut lemas di bahu pria mafia itu.
"Aku tak ingin berhenti, Cantik. Kau milikku sekarang, jadi menurutlah pada setiap perkataanku. Kubilang ... kau harus melayaniku di sini, Starla!" balas Brocklyn lalu mendorong Starla sampai punggungnya menempel di dinding kamar mandi.
Dalam sekali hunjaman, mereka telah melebur dalam pusaran gairah panas menggelegak di bawah siraman deras air shower yang dingin.
"Ohh ... Starla ... hmm ... you're mine!" gumam Brocklyn di tepi telinga wanita yang melunglai dalam dekapannya.
"Kau gila ... aku bukan milikmu!" bantah Starla. Dia menolak keras kata-kata Brocklyn yang terobsesi kepadanya.
Senyuman miring pria itu seolah-olah mengejek atas ketidak berdayaan Starla. Tubuhnya tak mampu menolak segala hasrat yang disulut oleh keperkasaan Brocklyn yang memaksa untuk menyetubuhinya dalam posisi berdiri berhadapan saat ini.
Gelombang klimaks menggulung raga Starla yang tak berdaya bergetar hebat dalam pelukan Brocklyn. Bibirnya gemetaran dengan napas terengah-engah, tubuhnya ditopang oleh Brocklyn karena belum tiba saatnya bagi pria itu merasa puas.
Namun, perlahan kesadaran Starla mulai mengabur sehingga dia pingsan di kamar mandi. Brocklyn bahkan belum selesai menuntaskan hasratnya.
"STARLA! STARLA ... OHH SHIT!" raung Brocklyn lalu buru-buru menggendong wanita itu menuju ke tempat tidur. Kemudian dia menekan tombol panggilan untuk kepala ART mansionnya yang ada di samping headboard ranjang.
Asal-asalan Brocklyn meraih jubah tidur sutra warna hitam di lemari lalu mengenakannya. Kemudian dia duduk di tepi ranjang seraya menepuk-nepuk pipi Starla yang sepucat mayat. Brocklyn memeriksa napas di depan hidung wanita itu dan juga denyut nadinya.
"TOK TOK TOK!"
"Masuk!"
Arthur Wellington segera membuka pintu kamar itu dan berkata, "Selamat pagi. Apa Anda memanggil saya, Master Hanson?"
"Yeah. Carikan dokter untuk memeriksa Starla. Dia pingsan di kamar mandi baru saja!" titah Brocklyn singkat sembari menoleh ke arah kepala pelayannya.
"Baik, Master Hanson. Segera. Apa ada perintah lainnya?" sahut Arthur dengan tatapan penuh penilaian ke wajah dan kondisi Starla yang hanya tertutupi selimut tubuhnya.
"Apa kau bisa memberikan pertolongan pertama untuk orang pingsan, Arthur? Setidaknya sembari menunggu dokter tiba!" balas Brocklyn yang mencemaskan Starla. Dia terbiasa menghilangkan nyawa orang, tetapi belum pernah merawat orang sakit apalagi pingsan.
Arthur terbatuk kecil. "Akan saya ambilkan minyak kayu putih dan teh camomile hangat, Sir!" jawabnya.
"Hmm ... lakukan apa pun yang mungkin bisa menolong Starla!" tukas Brocklyn lalu membiarkan Arthur meninggalkan kamar itu.
Telapak tangan Brocklyn menggosok-gosok tangan Starla yang dingin seperti balok es. Dia merutuki kebodohannya dalam hati, tidak seharusnya dia memaksa Starla melayani napsu di ujung pagi setelah semalaman dia terus memaksa wanita itu sampai kelelahan.
Kesadaran Starla tak kunjung kembali, sementara Arthur telah kembali membawakan minyak kayu putih dan teh camomile hangat dengan campuran madu asli. Kepala pelayan itu menuang beberapa tetes minyak herbal tersebut ke telapak tangannya lalu mendekatkan ke hidung Starla.
Perlahan kepala Starla bergerak-gerak dan bulu mata lentiknya bergetar perlahan. "Ukhh ...," lenguhnya lemas.
Brocklyn segera menggenggam telapak tangan Starla. "Darling, kau sudah sadar! Ayo minum teh hangat dulu," ujarnya seraya mengambil cangkir porselen putih dari nampan di atas nakas.
Dengan hati-hati Arthur menopang badan ringkih wanita yang menjadi tawanan bos mafia itu agar bisa duduk. Starla menyesap isi cangkir dan meneguk teh hangat yang membuatnya sedikit baikan.
"Permisi!" Suara pria terdengar dari ambang pintu kamar itu.
"Itu dia dokternya, Master Hanson!" ucap Arthur memberi tahukan identitas tamu.
Brocklyn pun memberi ruang kepada dokter berusia muda itu dengan bangkit dari tepi ranjang. Dia tetap mengawasi Dokter Jake Paltrow bekerja dengan stetoskop dan termometer serta tensimeter.
"Tekanan darah nyonya ini rendah sekali, apa kelelahan bekerja? Bisa jadi kadar gula darahnya turun drastis yang membuatnya pingsan. Akan saya suntikkan beberapa obat termasuk multivitamin!" ujar Dokter Jake.
"Lakukan saja yang terbaik, Dokter!" tukas singkat Brocklyn yang berdiri tak jauh dari ranjang sembari bersedekap dengan wajah serius.
Dia menatap curiga ke wajah Starla yang cukup familiar di kalangan penduduk Amerika Serikat. 'Bukankah ini bintang terkenal, Starla Cassidy? Bagaimana dia bisa tidur di ranjang seorang Brocklyn Hanson yang notabene seorang mafia?!' batin sang dokter berusaha mengekang lidahnya agar tidak sembarangan melontarkan pertanyaan. Nyawanya bisa menjadi taruhan bila salah bicara di hadapan Brocklyn.
