7. Pertemuan Pertama
Anna melangkah menuju lobby perusahaan dengan percaya diri. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Ia akan memulai misi ini dengan penuh semangat. Tujuannya semata hanya untuk memperbaiki nama baik sang ayah. Tidak bisa dipungkiri, ia juga ingin mengenal keluarga sang kakek lebih jauh.
Hari pertamanya bekerja, Anna masuk jam 8 seperti para karyawan pada umumnya. Setelah meminta ijin satpam, ia berjalan memasuki ruangan. Di luar ekspetasinya, ia sangat takjub dengan desain ruangan perusahaan ini. Dalamnya bernuansa modern dan mewah. Terdapat bunga besar di setiap pojok ruangan, menumbuhkan kesan alami diantara batuan granit yang mendominasi. Ruangannya luas dan banyak. Setiap lantai berbeda divisi. Perusahaan ini terdiri dari tiga bidang, tapi tetap milik Suryadinata Grup.
Anna bertemu dengan Bu Vivin, kepala dapur. Bu Vivin sempat memandang Anna agak lama sebelum ia mulai mentrainingnya.
"Selamat pagi bu.." Anna menyapa dengan mata berbinar indah.
"Pagi, Anna Aurelia. Perkenalkan saya Vivin, kepala dapur perusahaan. Saya akan mengajari kamu di hari pertama bekerja. Hari pertama bekerja hanya perkenalan ke setiap ruang saja. Nanti sambil kamu cek galon di setiap ruangan. Dan ambil gelas kosong di sana. Kamu juga harus memperkenalkan diri. Mengerti..?", Bu Vivin menjelaskan dengan ramah.
"Mengerti bu."
"Ini seragam kamu. Silahkan berganti pakaian dulu."
Anna memasuki toilet dapur dan berganti pakaian kerja. Ia bercermin dan menguatkan dirinya untuk awal misinya ini. Ia kemudian menarik nafas dalam, dan melangkah mulai bekerja. Anna mengikuti Bu Vivin sambil membawa kertas untuk mencatat ruangan demi ruangan agar mudah dihafalnya. Anna terlihat antusias dengan sesekali mengangguk mendengarkan penjelasan bu Vivin. Mereka lalu naik ke lantai 4, disini ruangannya lebih mewah lagi, karena ini ruangan para direktur. Lalu ke lantai 5, jauh lebih mewah dan tidak banyak ruangan disini. Hanya ada sekitar 5 ruangan. Terlihat seperti ruangan VVIP. Setiap ruangan berdinding granit mewah. Desain atapnya indah dengan lampu bercorak redup, terlihat alami. Bu Vivin hanya menjelaskan di ujung lorong ruangan, karena ini ruangan para Presdir. Lalu mereka kembali turun. Di atas masih banyak ruangan lagi tapi bukan satu bidang dengan perusahaan tempat Anna bekerja.
"Oke Ann, sekarang silahkan kamu mulai bekerja. Hanya hafalkan setiap ruangan dulu, dan kamu cek ya galonnya. Ingat, jika kamu bertemu dengan para petinggi perusahaan, usahakan menunduk dan agak menjauh ya." Bu Vivin menjelaskan.
"Baik bu. Oh ya bu, boleh ya saya memakai sepatu sport aja, saya belum terbiasa dengan sepatu hak tinggi. " Anna meminta karena memang ia tidak terbiasa bersepatu pantofel.
Bu Vivin mengangguk mengiyakan.
Anna mulai bekerja dengan sebuah lap di pundaknya. Ia mulai masuk ke ruangan para karyawan, memperkenalkan diri dan mengecek galon di setiap ruangan. Para karyawan tampak sibuk dan hanya meliriknya sebentar. Anna mengganti galon jika ada yang kosong. Ia terlihat bekerja dengan cekatan. Sesekali ia melirik setiap sudut ruangan, berharap ia menemukan sebuah petunjuk keberadaan perhiasan itu.
Dari jauh tampak seseorang sedang mengawasinya. Ia adalah Juan sang HRD. Anna berjalan menuju ruangan di depannya. Anna mengetahui itu adalah HRDnya kemarin.
"Selamat pagi, pak." Sapa nya ramah dengan menundukkan kepala.
"Pagi, ini hari pertamamu bekerja bukan?" Juan tak memalingkan pandangannya.
"Iya pak."
"Bekerjalah dengan baik."
"Baik pak. (lama Anna berdiri di hadapannya). Ehm permisi pak, bisa anda memberi jalan?" Anna meminta ijin dengan sedikit ragu.
"Oh ya, maaf.." Juan lalu membuka jalan.
****
"Selamat pagi Boss!" Juan tampak berbicara di telepon.
"Gimana.. ada kabar." Suara laki-laki menyahut.
"Hari ini dia mulai bekerja. Pilihanmu tak pernah buruk bos." Juan tersenyum sinis.
Terdengar suara dibalik telepon pun terkekeh.
"Apa rencanamu?" tanya pria di balik telepon.
"Mangsa yang indah. Boleh untuk bersenang-senang?" Juan menimpali.
"Ish, dia sepertinya cewek baik-baik ju. Loe mungkin akan kesulitan mengajaknya."
"Ah lama-lama pasti kena juga. Hahaha, tapi hijabers boss, sedikit ruwet." Juan menggelengkan kepala.
"Dia anak baik-baik ju, jangan dia, cari yang lain aja."
"Kenapa? Dia juga cewek normal.." Juan tersenyum.
"Hahaha masak office girl mau loe embat juga."
"Dia cantik boss, yaa biarpun OG, boleh lah untuk pemuas. Pakek pengaman pastinya." Juan mulai tergelak.
Terdengar tawa pria di balik telepon semakin keras.
"Gila loe !! Cari yang lain aja. Masa level lu seorang OG.."
"Iya butuh sedikit polesan aja, bakal lebih unggul dari Gina tuh." Juan menyeringai.
"Weeh...Gina masih jauh di atasnya broo." sang pria membela kekasihnya.
"Oke okee punya loe tetep unggul deh. Ntar lanjut lagi boss, gue kerja dulu atau bakal loe pecat ntar kalau kerjaan gue kagak beres."
"Yok." Pria tadi mematikan telepon.
Juan baru saja menelepon atasannya. Ia membicarakan tentang Anna yang baru masuk kerja hari ini. Kedua pria itu sahabat baik. Mereka menjadi partner kerja sudah lama. Juan adalah HRD yang juga seorang player. Banyak sekali wanita yang sudah menjadi kekasihnya. Maklum saja, wajahnya yang tampan seperti artis korea kerap mengundang perhatian banyak cewek. Ini sangat mendukung kepribadiannya yang juga penyuka wanita.
*****
Jam istirahat Anna duduk di bangku depan dapur. Ia memegang kertas sambil mengingat apa yang telah dicatatnya. Ia sudah berkenalan dengan banyak orang. Tapi ia tak melihat orang yang sejak tadi dicarinya, Tuan James Bond. Ia lalu menghampiri temannya yang sedang makan di kantin perusahaan.
"Ran, kamu pernah dengar nama Hadi Suryadinata?" Anna menghampiri Rani, teman barunya. Ia tengah makan bekalnya di kantin.
"Emm.. Pak Hadi Suryadinata pendiri perusahaan ini?" Temannya menyahuti.
"Dia bukan Presdir??" Anna semakin ingin tahu.
Temannya menggelengkan kepala.
"Dulu banget katanya beliau itu Presdir disini, karena usianya udah lanjut, terus digantikan putra pertamanya, Mr Riko."
Anna melipat bibir atasnya sembari berpikir.
"Jadi, Presdir kita Mr.Riko.. Terus kamu tahu putra Mr. Hadi siapa aja?"
"Setahuku, putranya ada tiga, Presdir semua di perusahaan ini. Kan perusahaan ini dibagi jadi 3 bidang.." Temannya menjelaskan sambil fokus ke makanannya.
Anna terdiam dan terlihat sedang berpikir.
"Anak Mr.Hadi katamu tadi laki-laki semua, beliau gak memiliki putri?"
"Emm kalau masalah itu aku kurang tau Ann. setahuku hanya tiga putranya. Mr Hadi udah jarang banget kesini, paling kesini cuman observasi kantor doang terus pulang. Katanya beliau terkena penyakit jantung. Dah bolak balik operasi sih, jadi beliau lebih banyak di rumah."
Anna sedikit terkejut. Ia tak mengira ternyata kakeknya sedang berjuang melawan penyakit. Tapi bagaimanapun ia sudah tega menghina ayah Anna, pikirnya.
"Kamu gak makan??" Rina menyadarkan Anna yang terlihat melamun.
"Aku jarang makan kalau siang. Udah kebiasaan kali ya.." Anna memandang seisi kantin yang dipenuhi karyawan.
"Ada apa kok kamu tanya tentang silsilah keluarga Mr. Hadi?" temannya penasaran.
"Emm aku pengen tau aja. Masak kerja nggak tau siapa bosnya?" Anna terkekeh.
Ia menemani temannya makan sambil mengobrol. Setelah itu mereka pergi menunaikan sholat duhur.
"
