Part 5
Cuaca sore ini mendadak mendung. Langit-langit yang semula terang menjadi redup. Rintik hujan perlahan mulai turun membasahi bumi. Suara petir pun terdengar mulai saling bersahutan.
Beruntung, sebagian penduduk SMA JUVENAL ada yang sudah pulang sebelum hujan tadi. Ya paling yang tersisa hanya yang mengikuti ekskul saja.
"Hujan nya makin lebat lagi, kalo gini cara nya mana bisa aku jalan sampe halte." Gerutu Tasha yang baru saja keluar dari ruang PMR.
Gadis itu kemudian duduk di sebuah bangku besi yang sengaja di sediakan. Ia mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi sang sopir.
"Halo assalamualaikum pak, bisa jemput aku disekolah sekarang?"
"Wa'alaikumsalam sayang, ini mama. Maaf ya pak Falah gak bisa jemput kamu, ini lagi ngantar mama ke bogor. Oma kamu penyakit nya kambuh lagi."
"Ya ampun mah, terus sekarang gimana keadaan oma?"
"Mama belum tau, semoga oma baik-baik aja ya."
"Iya mah amin, papa juga ikut?"
"Iya nak, papa ikut. Kamu dirumah baik-baik ya sama bibi, maaf mama gak sempat kasih kamu kabar."
"Iya gak papa kok mah, mama sama papa juga hati-hati. Aku tutup dulu ya telfon nya?"
"Iya sayang, kamu minta tolong temen kamu aja suruh jemput, ini udah sore."
"Iya mah nanti aku coba ya. Assalamualaikum mah."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah panggilan itu terputus, Tasha kembali menyimpan ponselnya dan beralih menatap ke depan. Masih hujan. Malah semakin deras.
"Ini gimana caranya aku pulang? Mana sekolah udah mulai sepi. Apa aku nekat aja lari ke depan?"
Tasha berfikir sejenak, sebelum akhirnya ia bangkit dan mulai melangkahkan kaki nya.
Ada sedikit keraguan dalam diri Tasha untuk menembus hujan. Namun harus bagaimana lagi? Jika dirinya tidak keluar dari sekolah, khawatir satpam akan menutup gerbang nya.
"Oke Tasha, kamu bisa."
Tasha memejamkan mata seraya menghela nafas, kemudian kedua kakinya mulai melangkah perlahan.
Namun, tunggu.
Kenapa kepala nya tidak basah?
Spontan, Tasha membuka mata dan mendongak. Matanya sedikit membeo ketika ia melihat sebuah jaket yang kini berada diatas kepala nya. Dan betapa terkejutnya Tasha kala melihat siapa sang pemilik jaket tersebut.
Alih-alih ingin berbicara, tiba-tiba saja sosok pemilik jaket itu merengkuh bahu Tasha dan mulai berjalan, yang membuat Tasha mau tak mau mengikuti langkahnya.
"Kak.."
"Masuk, baju lo udah basah."
Tasha hanya menurut saat lelaki itu membukakan pintu mobilnya. Hingga kemudian, lelaki itu pun berjalan memutari mobil dan masuk melalui pintu kemudi.
"Kak Al kenapa bisa masih ada disekolah?" Tanya Tasha.
Al menyugar rambutnya yang basah, kemudian melirik Tasha sambil tersenyum.
"Tadi nya gue udah mau balik, eh gue kepikiran lo. Yaudah gue balik lagi."
"Kak, serius."
"Mau gue seriusin sekarang?"
Tangan Tasha refleks memukul lengan Al, "Bercanda mulu!"
Al terkekeh. Di raih nya sebuah jaket yang berbeda dari jok belakang, kemudian memberikan nya pada Tasha.
"Pake deh, nanti dingin."
"Engga usah deh kak, gak dingin kok."
"Nurut, katanya sayang."
Alis Tasha seketika menyergit, kemudian kembali memukul lengan Al sambil terkekeh.
"Apaan deh kak!"
"Pake ayo."
"Gak papa aku pake?"
"Iya pake aja."
"Makasih ya."
Al menyunggingkan senyum, kemudian mengacak gemas rambut Tasha.
"Iya santai."
•••••
Tepat ketika adzan berkumandang Al dan Tasha sampai di kediaman Tasha. Jangan ditanya kenapa mereka bisa sampai magrib begini, sudah tentu jalanan macet parah karena hujan.
"Kak Al mau mampir dulu? Sekalian sholat magrib di dalem."
"Di dalem emang ada siapa?"
"Cuma ada bibi paling. Soalnya mama sama papa sore tadi pergi ke bogor jengukin oma."
"Kirain lo sendiri. Kalo lo sendiri gue gak jadi mampir, takut di hantam tetangga."
"Ya engga lah kak, ada bibi kok. Yuk, masukin aja mobilnya ke dalem."
Al mengangguk. Ia membunyikan klakson mobilnya, hingga kemudian gerbang besar tersebut terbuka menampilkan seorang satpam dengan payung yang berada di tangan kiri nya. Al tersenyum sekilas pada satpam itu, begitu pun sebaliknya.
Setelah sampai di depan pintu rumah Tasha, Al mengambil jaket yang tadi ia gunakan dengan Tasha sebagai penutup kepala untuk sampai di mobil. Setelahnya, mereka berdua keluar dari mobil dengan posisi sama seperti disekolah tadi.
"Ayo kak masuk."
"Iya sha."
"Assalamualaikum." Ujar Tasha dan Al bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, ya ampun non. Bibi khawatir banget non dari tadi belum pulang." Sahut seorang wanita paruh baya dari arah dapur.
"Aku gak papa kok bi. Tadi jalanan macet, jadi agak telat pulang."
"Ini siapa non? Pacar non ya?" Tanya pembantu Tasha seraya tersenyum jahil.
Tasha tersenyum kikuk, "Bu..bukan bi. Ini kak Al, dia kakak kelas aku."
Al tersenyum pada pembantu Tasha, "Bi." Sapa nya.
"Iya den. Oh iya, non sama aden mau bibi buatin minum apa?"
"Nanti aja bi, aku sama kak Al mau sholat magrib dulu."
"Sholat nya berdua?" Tanya bibi.
"Ya engga lah bi, nanti kak Al biar sholat di kamar tamu aja."
"Oh yaudah non. Nanti kalo ada perlu apa-apa, panggil bibi aja ya."
"Siap bi. Ayo kak."
•••••
Al dan Tasha baru saja selesai melaksanakan sholat magrib. Kini, kedua nya telah duduk di sofa ruang tamu dengan minuman dan cemilan yang sudah tertera diatas meja.
"Mampus, hape gue pake lowbat lagi. Pasti mom khawatir banget nih." Gumam Al, seraya menatap ponselnya yang sudah tak bernyawa.
"Kenapa kak?"
"Ah apa? Ini hape gue lowbat, dan gue gak bisa kabarin orang rumah."
"Mau pake hape aku aja?"
"Boleh?"
"Boleh dong, nih." Tasha memberikan ponselnya pada Al, dan Al menerima nya.
Al mulai mengetikkan nomor ponsel sang bunda untuk mengirimkan nya pesan.
"Nih sha, thanks ya."
"Gak di telfon?"
"Gak usah." Ujar Al, dan Tasha tersenyum mengerti.
"Sha?" Panggil Al.
"Iya?"
"Lo tau kenapa kalo hujan bawaan nya dingin?"
"Kan hujan air. Kalo hujan nya batu baru bawaan nya sakit." Balas Tasha dengan watados nya.
"Salah. Karena kalo bawaan nya rindu, itu lo, bukan hujan."
"Gak jelas deh kak!" Tasha terkekeh.
"Lah? Emang iya gak jelas ya? Gagal dong gue gombalin lo." Al ikut terkekeh.
