Chapter 1
"Nggak, Kapten... ini nggak boleh..."
Namun, kata-kata Karina tertelan saat Devran menunduk dan menyentuh bibirnya dengan ciuman singkat namun penuh penekanan.
"Kapten?"
Karina terperangah, ia mencoba mundur, namun dinding kabin kapal sudah mengunci geraknya.
"Karina... aku serius cinta sama kamu."
Devran datang lagi, kali ini lebih menuntut. Ciuman itu dalam, panas, dan membawa segala rasa kesepian serta rasa haus akan kasih sayang yang selama ini mereka pendam.
Pertahanan Karina runtuh. Ia yang selama ini merasa terabaikan oleh Ferdi, kini merasa begitu diinginkan oleh pria sehebat Devran.
Tangan Karina perlahan naik, meremas rambut hitam tebal Devran, membalas ciuman itu dengan gairah yang sama besarnya. Devran mengerang, tangannya menyusup ke balik kemeja putih Karina, merengkuh pinggangnya dan menekannya semakin rapat.
Ciuman itu menjadi liar dan brutal. Devran mengangkat tubuh Karina, mendudukkannya di atas meja besi tempat alat pancing berserakan.
Mereka saling melepaskan pakaian dengan terburu-buru, seolah-olah waktu akan habis dalam sekejap. Saat celana Devran jatuh ke lantai, ia segera mendesak di antara kedua paha Karina.
"Aaah..."
Karina mendesah hebat saat kulit telanjang mereka bersentuhan sepenuhnya. Sentuhan intim Devran di area paling sensitifnya membuat Karina merasa hidup kembali.
Ia mencengkeram punggung tegap Devran, membiarkan pria itu merenggut satu-satunya kesetiaan yang selama ini ia jaga untuk Ferdi-pria yang justru membuangnya.
"Ahhh... Kapten..." desah Karina saat Devran mulai memasuki dirinya dengan perlahan namun penuh tenaga.
"Karina..."
Devran mengerang nikmat. Ia merasa seolah masuk ke dalam pusaran kehangatan yang luar biasa, menghapus kedinginan jiwanya yang selama ini membeku dalam pernikahan hampa bersama Renata.
Ia merengkuh tubuh molek Karina, menciumi leher dan pundaknya saat gerakannya semakin intens dan menuntut.
Mereka berciuman lagi, lidah mereka bertautan dalam irama yang sinkron dengan gerakan tubuh mereka. Devran menelusuri setiap inci lekuk tubuh Karina dengan bibirnya, memberikan pemujaan yang belum pernah didapatkan wanita itu sebelumnya.
"Aah! Enak, Kapten..."
Karina terus mendesah, jarinya menjambak rambut Devran saat pria itu memberikan kenikmatan yang membuat dunianya seakan meledak.
Belum puas di atas meja, Devran membopong tubuh telanjang Karina menuju kasur kecil di sudut kabin. Di sana, mereka kembali tenggelam dalam gairah yang lebih brutal.
Karina mencengkeram erat alas kasur saat Devran bermain dengan lidahnya di antara kedua pahanya, memberikan stimulasi yang membuatnya bergetar hebat.
"Kapten... Devran...!" teriak Karina saat mencapai puncak klimaksnya.
...............................................
Jakarta, 2025.
Langit di atas Bandara Soekarno-Hatta kelabu, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Karina. Setiap tarikan napas terasa berat, membebani rongga dada yang sesak.
Koper kabinnya terasa seperti beban berton-ton, diseretnya perlahan di koridor terminal yang lengang, gema rodanya beradu dengan langkah kaki yang hampa. Karina, 21 tahun, seragam pramugari Samudera Airline membalut tubuhnya yang ramping, namun aura profesionalnya runtuh dihempas badai berita.
Wajah ayunya pias, air mata menggenang di pelupuk mata yang sembab, tak peduli pada tatapan samar dari beberapa penumpang yang berpapasan.
Beberapa menit sebelumnya, ponselnya bergetar di saku, menampilkan nama yang tak asing namun kini terasa asing: Ibu Mertua. Suara di seberang sana, yang biasanya lembut dan penuh perhatian, kini terdengar pecah oleh tangis dan histeria.
Ferdi mengalami kecelakaan saat pemotretan di puncak gunung. Kata-kata itu berputar-putar di benaknya, merobek ketenangan yang selama ini dipertahankannya.
Suaminya, Ferdi Prasetyo, sang fotografer petualang, kini terbaring tak berdaya. Tanpa pikir panjang, Karina mengajukan pembatalan penerbangan ke manajer on duty, suaranya tercekat. Ia harus kembali ke Jakarta, harus melihat Ferdi.
Di dalam taksi yang melaju membelah padatnya Jakarta, dunia terasa berputar lambat. Rintik hujan mulai membasahi kaca jendela, seolah mencerminkan air mata yang tak henti mengalir di pipi Karina.
Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan Ferdi yang terbaring lemah. Namun, yang muncul justru kenangan setahun silam, saat dunia mereka masih sempurna.
Kilau cincin kawin di jarinya memantulkan cahaya lampu jalan, membawa Karina kembali pada hari itu. Ferdi, suaminya, seorang fotografer sukses yang namanya melambung tinggi.
Pria humoris, romantis, dan penuh kejutan yang tak pernah gagal membuatnya tertawa. Pernikahan mereka bagai dongeng yang menjadi nyata.
Sebuah rumah baru yang megah, mobil mewah yang berkilau, semua adalah hadiah pernikahan dari Ferdi, bukti cintanya yang melimpah ruah. Karina ingat bagaimana Ferdi selalu ada, selalu mendekapnya hangat, selalu berbagi impian.
Namun, segalanya berubah. Pelan-pelan, setahap demi setahap, kehangatan itu memudar. Tawa Ferdi menghilang, digantikan tatapan kosong. Sentuhan lembut berganti dengan jarak yang tak terucap.
Laki-laki yang dulu selalu menemukan cara untuk membuat kejutan manis, kini berubah menjadi patung es, membisu seribu bahasa. Berbulan-bulan. Berbulan-bulan Karina hidup dalam kebisuan, dalam dinginnya tembok yang tak terlihat.
Ia mencoba bertanya, mencoba mendekat, namun Ferdi hanya membuang muka, atau lebih parah lagi, menghilang dalam kesibukannya.
Karina mendesah pilu, menyeka air mata dengan punggung tangan. Perih. Ini lebih perih daripada luka fisik mana pun. Ia tak pernah menyalahkan Ferdi atas kesulitan finansial yang mulai melanda.
Proyek-proyek besar yang dulu menghampiri Ferdi kini jarang datang, dan Karina tahu itu membebani suaminya. Ia berusaha mengerti, berusaha mendukung, namun Ferdi justru semakin menjauh. Ia merindukan Ferdi yang dulu, Ferdi yang selalu menjadi sandaran hatinya.
Taksi berhenti di depan sebuah gedung megah; Rumah Sakit Permata. Jantung Karina berdebar tak karuan. Ia melangkah masuk, merasakan atmosfer muram yang menyelimuti lobi.
Bau antiseptik menusuk indra penciumannya, menambah kegelisahan. Di koridor menuju ICU, sosok Dewi, ibu Ferdi, dan Viona, kakak perempuan Ferdi, sudah menunggu.
Wajah mereka bukan menyiratkan keprihatinan, melainkan tatapan sinis yang menghunus hati Karina.
"Karina!" seru Dewi, suaranya tajam, sarat emosi. Tanpa basa-basi, wanita paruh baya itu menarik lengan Karina dengan kasar. "Ini semua gara-gara kamu! Ferdi jadi begini karena kamu!"
Karina terkesiap, tubuhnya menegang. Ia ingin membela diri, ingin menjelaskan, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya.
Sebelum ia sempat berbicara, Viona menyambar, tatapan kakaknya menusuk. "Iya, lo sibuk sama karier lo itu! Terbang sana-sini, lupa suami! Lupa kewajiban sebagai istri!"
Sakit. Hati Karina serasa diremukkan. Di tengah duka dan kekhawatiran akan Ferdi, ia justru dihantam tuduhan keji. Air mata yang sempat tertahan kembali tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipi.
Ia meraung dalam tangis, bukan hanya karena duka atas Ferdi, tapi juga karena keputusasaan. Justru ia yang selama ini tersiksa, justru ia yang selama ini berjuang menghadapi dinginnya Ferdi, dan kini ia yang disalahkan. Ketidakadilan ini terasa mencekiknya.
Dewi dan Viona terus melontarkan kata-kata pedas, mengabaikan tangis Karina yang memilukan. Karina hanya bisa menunduk, bahunya bergetar. Hatinya hancur berkeping-keping.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Karina melepaskan diri dari cekalan ibu mertua, melangkah gontai menuju ruang ICU. Dari balik kaca, ia melihat Ferdi terbaring tak berdaya, wajahnya pucat pasi, kakinya dibalut gips tebal.
Pemandangan itu merobek hatinya. Ia masuk, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokannya.
"Mas Ferdi..." Suaranya berbisik, serak.
Ferdi, begitu menyadari kehadiran Karina, segera membuang wajahnya ke samping, menatap kosong ke dinding putih.
Ada harga diri yang terlalu tinggi di balik sikap itu, ketakutan untuk terlihat lemah di hadapan Karina yang kariernya sedang meroket. Ia tak ingin Karina melihat kerapuhannya. Sikapnya yang dingin tak pernah berubah, bahkan di ranjang rumah sakit.
Karina, dengan hati yang terluka, berusaha menahan kesabarannya. Ia mendekat, meraih jemari Ferdi yang tergeletak lemas di atas selimut.
Jemari itu dingin, tak lagi memancarkan kehangatan yang dulu selalu ia dambakan. Air mata kembali mengalir, membasahi tangannya yang menggenggam jemari Ferdi.
Ferdi merasakan sentuhan itu, merasakan kehangatan air mata Karina yang jatuh di punggung tangannya. Tanpa Karina ketahui, sebutir air mata mengalir di sudut mata Ferdi, menuruni pelipisnya dan menghilang di rambutnya.
Ia memang memalingkan wajah, menyembunyikan kerapuhan, namun hatinya tak sekeras batu. Ada penyesalan, ada rasa bersalah, yang tersembunyi di balik topeng dingin itu.
Sepulang dari rumah sakit, Karina kembali ke rumah yang terasa hampa. Suasana sepi mencekik. Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya kembali berdering.
Panggilan dari Samudera Airline. Besok, ia harus bertugas. Menggantikan pramugari senior yang berhalangan.
Jantung Karina mencelos. Besok? Ferdi masih di rumah sakit, masih membutuhkan dirinya. Ia ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tak bisa, namun keberanian itu menguap begitu saja.
Ia hanyalah pramugari baru, belum genap setahun bergabung dengan maskapai elite ini. Untuk bisa menjadi bagian dari Samudera Airline, perjuangannya tidak mudah. Ada persaingan ketat, pelatihan berat, dan tuntutan profesionalisme yang tinggi.
Menolak tugas, terutama tugas mendadak seperti ini, bisa berakibat fatal bagi kariernya yang baru menanjak. Ia menghela napas pasrah. Lagi-lagi, ia harus mengesampingkan perasaannya demi pekerjaan.
Pagi-pagi buta, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Karina sudah mengenakan seragam pramugarinya yang rapi. Ia menyempatkan diri kembali ke rumah sakit, ingin melihat Ferdi sebelum terbang ke Batam.
Di samping ranjang Ferdi, ia berbisik lembut, "Mas, aku harus terbang ke Batam hari ini. Menggantikan senior."
Ferdi mengangguk pelan, tatapannya kosong. Sebuah izin yang terasa hambar. Karina membungkuk, mencium punggung tangan Ferdi, berharap ada kehangatan yang terpancar, namun yang ia rasakan hanya dingin. Pamitnya terasa berat, meninggalkan Ferdi dalam kondisi seperti itu.
Saat melangkah keluar dari kamar rawat, di koridor, ia berpapasan dengan Dewi dan Viona. Keduanya berdiri tegak, dengan tatapan menghakimi. Dewi menatap sinis pada seragam pramugari Karina, seolah seragam itu adalah simbol ketidakpedulian.
"Lihat tuh, Bu." ujar Viona dengan nada tajam, "Suami lagi sakit, kakinya patah, malah mau pergi kerja. Istri macam apa itu? Dasar nggak tahu diri!"
Karina merasakan hatinya kembali nyeri, namun ia mencoba menahan diri. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Dengan seulas senyum tipis, ia berusaha menyapa Dewi, hendak mencium tangannya sebagai bentuk hormat.
Namun, ibu mertuanya segera mundur, menatapnya jijik. Karina tercekat. Penghinaan ini terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata.
"Harusnya kamu itu mikir, Karina. Ferdi sudah meninggalkan segalanya demi nikah sama kamu. Jadi orang kok nggak tahu diri banget," cetus Viona, menatap jijik pada wanita cantik berseragam pramugari di hadapannya.
Melihat jam di pergelangan tangannya, Karina memutuskan untuk tidak meladeni mereka. Ia akan terlambat jika terus berdebat.
"Maaf, Mbak Vio, Ibu... aku harus berangkat."
Dengan langkah cepat, ia bergegas meninggalkan rumah sakit, meninggalkan tatapan sinis dan kebencian yang menusuk.
Setibanya di kantor maskapai, suasana sudah ramai. Pramugari dan pramugara Samudera Airline, mengenakan seragam biru tua yang elegan, berbaris rapi, siap untuk penerbangan.
Karina segera bergabung di barisan, berusaha menata perasaannya yang kacau balau. Ia harus profesional. Ini adalah pekerjaannya, satu-satunya penopang finansial mereka saat ini.
Kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita muncul. Sosoknya tinggi semampai, mengenakan setelan blazer hitam yang pas di tubuh, rambutnya diikat rapi. Wajahnya tegas, dengan sorot mata tajam yang memancarkan otoritas. Dia, Renata Masayu, CEO Samudera Airline, sang pemilik maskapai.
Renata berjalan perlahan di sepanjang barisan, menatap setiap pramugari dan pramugara dengan teliti, seolah memindai setiap detail. Tatapannya berhenti pada Karina.
Ia menyipitkan mata, menatap Karina lebih lama dari yang lain, seolah menemukan sesuatu yang mencolok, yang entah mengapa menarik perhatiannya.
Deg.
Karina merasakan kegugupan menyeruak, namun ia mencoba mempertahankan sikap profesional.
Setelah memberikan beberapa arahan singkat, Renata membubarkan barisan. Namun, saat semua mulai bergerak, Renata memanggil Karina.
"Kamu, ikut saya sebentar."
Suara Renata dingin, tanpa emosi. Karina segera menghadap, merasa hormat sekaligus segan. Ia tidak tahu apa salahnya.
"Dengar," ucap Renata, menatap lurus ke mata Karina, "Di Samudera Airline ini, kami tidak membutuhkan pramugari yang kecentilan dan sok cantik. Paham?"
Karina terkejut, napasnya tertahan. Jantungnya berdebar kencang. Kecentilan? Sok cantik? Ia tak mengerti. Ia merasa tidak pernah melakukan hal seperti itu. Air muka Renata tidak menunjukkan sedikit pun keramahan, selain tatapan dingin.
"Sekarang, pergi. Susul yang lain," perintah Renata, tanpa memberikan Karina kesempatan untuk menjelaskan diri.
Karina hanya bisa mengangguk, bingung dan malu. Ia segera bergegas pergi, menyusul rekan-rekannya menuju pesawat. Ada perasaan tidak nyaman menyelimutinya.
Apa maksud Renata? Apakah ia melakukan kesalahan fatal tanpa menyadarinya?
Di dalam pesawat, ia bertemu dengan Ririn, seorang pramugari senior Samudera Airline yang dikenal ramah. Ririn menyambut Karina dengan senyum hangat.
"Lo Karina, kan? Yang baru gabung?" sapa Ririn. "Selamat datang di Samudera. Ini penerbangan eksklusif pertama lo, ya?"
Karina mengangguk, membalas senyum Ririn. "Iya, Mbak Ririn. Mohon bimbingannya."
"Santai aja," kata Ririn, sambil menata troli makanan. "Nanti gue kasih tahu aturan-aturan nggak tertulis di sini. Yang nggak ada di kontrak kerja."
Karina mengangguk, merasa sedikit lega dengan kehangatan Ririn. "Mbak, boleh tanya sesuatu?"
"Boleh. Tanya apa?"
"CEO kita... Bu Renata... dia kayaknya agak judes gitu, ya?" tanya Karina ragu-ragu.
Ririn tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat makna. "Bu Renata memang begitu. Dingin, angkuh, tapi profesional kok. Dia sangat menjunjung tinggi standar maskapai ini. Jadi, jangan heran kalau dia kelihatan agak judes."
Belum sempat Karina bertanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara pramugari lain menyapa dengan antusias.
"Kapten Devran! Selamat pagi!"
Karina dan Ririn menoleh ke arah kokpit. Sesosok pria tegap melangkah keluar, mengenakan seragam pilot Samudera Airline yang gagah.
Wajahnya tampan sempurna, rahang tegas, hidung mancung, dengan sorot mata yang teduh namun memancarkan kharisma. Rambutnya hitam legam, tersisir rapi. Senyumnya begitu menawan, mampu meluluhkan hati setiap wanita.
Dialah Kapten Devran Mahendra, pilot idaman para pramugari, bintang di maskapai ini. Pria yang dielu-elukan karena parasnya yang menawan dan kemampuannya yang tak diragukan. Ia adalah definisi kesempurnaan seorang laki-laki.
Devran menoleh, senyumnya semakin lebar saat matanya bertemu dengan Karina. Sebuah senyum ramah, tulus, yang langsung menembus ke dalam hati Karina.
Untuk sesaat, segala keputusasaan dan duka yang membelenggunya terlupakan. Ada getaran aneh, sebuah percikan kecil, yang tiba-tiba muncul.
Ririn menyenggol lengan Karina pelan, tatapan matanya memperingatkan. "Awas kecantol, Karina. Kapten Devran itu suaminya Bu Renata, CEO kita."
Karina tertegun, pandangannya beralih dari Devran ke Ririn, lalu kembali ke Devran.
Suami Bu Renata? CEO yang dingin dan angkuh itu?
Dunia serasa mengejeknya lagi. Sebuah kenyataan pahit, dan peringatan yang tegas. Jika Bu Renata tahu, Karina bisa dipecat. Senyum menawan Kapten Devran Mahendra kini terasa seperti racun yang mematikan, menjanjikan bahaya yang tak terlihat.
Karina menunduk, kembali merasakan keputusasaan yang lebih dalam pada nasib pernikahannya dengan Ferdi. Laki-laki yang begitu ia cintai, kini menjauh. Dan di hadapannya, ada sosok sempurna yang terlarang, yang seolah mengejek penderitaannya.
